kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.901   1,00   0,01%
  • IDX 6.313   -27,21   -0,43%
  • KOMPAS100 833   -6,25   -0,74%
  • LQ45 631   -5,79   -0,91%
  • ISSI 217   -0,76   -0,35%
  • IDX30 355   -2,86   -0,80%
  • IDXHIDIV20 440   -3,34   -0,75%
  • IDX80 95   -0,74   -0,77%
  • IDXV30 118   -0,39   -0,32%
  • IDXQ30 114   -1,00   -0,87%

Surplus 72 Bulan Berakhir, Neraca Perdagangan Indonesia Defisit US$ 1,61 Miliar


Rabu, 01 Juli 2026 / 17:33 WIB
Surplus 72 Bulan Berakhir, Neraca Perdagangan Indonesia Defisit US$ 1,61 Miliar
ILUSTRASI. Defisit US$ 1,61 miliar Mei 2026 akhiri surplus 72 bulan Indonesia. Sektor migas jadi pemicu utama. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan defisit mencapai US$ 1,61 miliar, mengakhiri tren surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.

Capaian tersebut berbalik dibandingkan April 2026 yang masih mencatat surplus sebesar US$ 89,1 juta. Defisit kali ini terutama dipicu oleh lonjakan defisit pada sektor minyak dan gas (migas), seiring meningkatnya impor migas yang jauh melampaui nilai ekspornya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kinerja perdagangan migas menjadi penyebab utama berbaliknya neraca perdagangan Indonesia ke zona defisit.

"Defisit neraca perdagangan terutama disebabkan oleh komoditas migas yang mencatat defisit sebesar US$ 3,76 miliar. Defisit tersebut berasal dari perdagangan hasil minyak dan minyak mentah," ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).

Baca Juga: Ironi! Stok Beras Diklaim Melimpah, Tapi Harga Di Pasar Terus Bertambah

BPS mencatat, defisit neraca perdagangan migas sebesar US$ 3,76 miliar tersebut jauh lebih besar dibandingkan surplus yang masih mampu dibukukan sektor nonmigas.

Meski demikian, perdagangan nonmigas Indonesia masih menunjukkan kinerja positif. Pada Mei 2026, neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus sebesar US$ 2,15 miliar.

Surplus tersebut terutama ditopang oleh ekspor komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan maupun nabati, serta besi dan baja. Namun, besarnya surplus nonmigas tersebut belum mampu mengimbangi defisit yang terjadi pada sektor migas.

Dari sisi ekspor, BPS melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$ 23,20 miliar atau turun 5,73% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh melemahnya ekspor nonmigas sebesar 4,50% menjadi US$ 22,45 miliar. Sementara itu, ekspor migas mengalami penurunan yang lebih tajam, yakni sebesar 31,76% secara tahunan menjadi US$ 760 juta.

Baca Juga: China Jadi Pemberat Defisit Neraca Dagang RI, AS Masih Penyumbang Surplus

Di sisi lain, aktivitas impor justru menunjukkan peningkatan signifikan. Nilai impor Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar US$ 24,82 miliar atau naik 22,16% dibandingkan Mei 2025.

Kenaikan impor terutama berasal dari sektor nonmigas yang tumbuh 14,89% secara tahunan menjadi US$ 20,30 miliar. Namun, lonjakan paling tinggi terjadi pada impor migas yang meningkat hingga 70,78% menjadi US$ 4,51 miliar.

Kondisi tersebut menyebabkan nilai impor migas jauh melampaui ekspor migas, sehingga menciptakan defisit perdagangan yang cukup dalam pada sektor energi.

BPS menilai, lonjakan impor migas menjadi faktor utama yang mendorong Indonesia kembali mengalami defisit neraca perdagangan setelah enam tahun lebih menikmati surplus secara konsisten.

Meskipun sektor nonmigas masih mampu menghasilkan surplus, nilainya belum cukup untuk menutup defisit perdagangan migas yang mencapai US$ 3,76 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×