kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.669.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.913   3,00   0,02%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Surat Perbendaharaan Negara Jadi Strategi Pemerintah Biayai Belanja pada Awal 2026


Minggu, 05 Oktober 2025 / 15:47 WIB
Surat Perbendaharaan Negara Jadi Strategi Pemerintah Biayai Belanja pada Awal 2026
ILUSTRASI. Truk yang membawa peti kemas melintas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (2/10/2025). Kemenkeu pastikan Surat Perbendaharaan Negara (SPN) menjadi salah satu instrumen utama pembiayaan kebutuhan belanja negara pada awal 2026 nanti.


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Keuangan memastikan Surat Perbendaharaan Negara (SPN) akan menjadi salah satu instrumen utama pembiayaan kebutuhan belanja negara pada awal 2026 nanti.

Hal ini sejalan dengan pola penerimaan negara yang biasanya rendah pada Januari–Februari setiap tahunnya.

“Kalau tidak cukup dari penerimaan, kita bisa dukung dengan instrumen seperti Surat Perbendaharaan Negara (SPN). Instrumen ini sesuai karena kebutuhannya jangka pendek, bukan untuk belanja infrastruktur jangka panjang,” ujar Direktur Jenderal Perbendaharaan Kemenkeu, Astera Primanto Bhakti kepada Kontan saat ditemui di Gedung Kemenkeu Pusat, Jakarta, Jumat (3/10/2025).

Baca Juga: Sri Mulyani Pakai SAL Rp 16 T untuk Koperasi Merah Putih, Ekonom Ingatkan Beban APBN

Prima menjelaskan bahwa SPN sejatinya telah masuk ke dalam strategi pembiayaan pemerintah. Namun, penggunaannya masih terbatas karena ukuran penerbitannya relatif kecil.

“SPN ini sebenarnya sudah jadi strategi, hanya saja size-nya masih kecil, jadi mungkin belum terlalu top (di market),” jelas Prima.

Prima menambahkan, peminat SPN pada dasarnya sama dengan instrumen Surat Berharga Negara yang betenor panjang, dimana penerbitannya bergantung pada kondisi pasar. Karena itu, pemerintah perlu melihat lebih jauh bagaimana respons investor.

“Kalau peminat sih (SPN) sama saja, tergantung market. Tapi semuanya kan memang kita harus dalamin dulu marketnya seperti apa,” imbuhnya.

Baca Juga: Minta Restu DPR Gunakan SAL Rp 85,6 Triliun, Ini Alasan Sri Mulyani

Dengan karakter jangka pendeknya, SPN dinilai sesuai untuk menutup kebutuhan likuiditas belanja negara di awal tahun, tanpa membebani pembiayaan jangka panjang.

Prima juga bilang terkait penerbitan SPN ini nantinya akan diatur oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (PPR) Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Suminto.

Namun sayangnya, Suminto belum mau memberikan komentarnya ketika dikonfirmasi terkait isu penerbitan SPN tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×