Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Salah satu informasi yang kerap ditunggu umat Islam di bulan Ramadhan adalah kapan Hari Raya Idul Fitri akan jatuh. Penentuan tanggal ini biasanya dilakukan dengan metode hisab atau pengamatan hilal.
Baru-baru ini, sebuah unggahan di Instagram menyebutkan bahwa Hari Raya Idul Fitri 1447 H akan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Unggahan itu menyebutkan, bulan Ramadhan tahun ini berjumlah 30 hari sehingga Idul Fitri diperkirakan jatuh pada tanggal tersebut.
"Ramadhan 1447 H berjumlah 30 hari sehingga lebaran jatuh pada 21 Maret 2026," tulis akun @gn** pada Sabtu (7/3/2026).
Namun, apakah prediksi tersebut sesuai dengan perhitungan resmi?
Hisab BMKG: Idul Fitri 21 Maret 2026
Ketua Tim Kerja Bidang Tanda Waktu BMKG, Himawan Widiyanto, menjelaskan, berdasarkan hisab atau perhitungan astronomi, Hari Raya Idul Fitri 1447 H memang diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.
Himawan menjelaskan, ketinggian hilal pada 29 Ramadhan 1447 H atau 19 Maret 2026 berada antara 0° 54' 27" di Merauke, Papua, hingga 3° 07' 52" di Sabang, Aceh.
Sementara elongasinya berkisar antara 4° 32' 40" di Waris, Papua, sampai 6° 06' 10" di Banda Aceh.
Baca Juga: Pendaftaran CPNS Dibuka Juli 2026? Ini Jawaban BKN
"Berdasarkan kriteria MABIMS atau kesepakatan antarnegara Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura), ketinggian minimal hilal adalah 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Karena ketinggian hilal pada 19 Maret belum memenuhi kriteria ini, bulan Ramadhan 1447 H digenapkan menjadi 30 hari," jelas Himawan saat dihubungi Kompas.com, Minggu (8/3/2026).
Dengan demikian, menurut perhitungan BMKG, 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 21 Maret 2026.
Keputusan final tetap di sidang isbat
Meski hisab BMKG menunjukkan tanggal tersebut, Himawan menegaskan bahwa penetapan resmi tetap berada di tangan Menteri Agama melalui sidang isbat.
"Kita tetap harus menunggu keputusan Menteri Agama RI dalam sidang isbat tanggal 19 Maret 2026," katanya.
Sidang isbat nantinya akan dihadiri organisasi masyarakat Islam, perwakilan negara sahabat, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ketua Komisi VIII DPR RI, serta perwakilan BMKG, BRIN, dan BIG.
Data hisab BMKG akan disampaikan dalam sidang untuk menjadi pertimbangan penentuan awal Syawal.
"BMKG mendukung data ke Kementerian Agama RI. Penentuan awal bulan Syawal ada di Menteri Agama RI dalam sidang isbat," jelas Himawan.
Baca Juga: Dampak Perang Timur Tengah: Prabowo Minta Rakyat Bersiap Hadapi Ini













