Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Pertamina Patra Niaga memastikan ketahanan stok Liquefied Petroleum Gas (LPG) nasional dalam posisi aman meski berada di level 11,6 hari. Perusahaan menegaskan bahwa kondisi stok saat ini tidak masuk dalam kategori darurat sebagaimana dikhawatirkan publik.
Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Robert Dumatubun menyatakan bahwa penggunaan terminologi darurat tidak relevan dengan kondisi lapangan dan koordinasi yang dilakukan bersama pemerintah.
"Tidak pada definisi darurat LPG, karena saya pikir definisi kondisi darurat tidak tepat mengacu pada statement Pemerintah yang disampaikan," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (1/4/2026).
Robert menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong (panic buying). Ia menekankan pentingnya narasi yang kondusif agar distribusi tetap stabil di masyarakat.
Baca Juga: BPS: Inflasi Maret 2026 Capai 3,48%, Inti hingga Harga Bergejolak Sama-sama Naik
Terkait pasokan, Pertamina mengakui bahwa pemenuhan kebutuhan LPG nasional mayoritas masih bergantung pada jalur luar negeri. Namun, perusahaan pelat merah ini memastikan volume pengadaan akan terus dimitigasi untuk menjaga keandalan stok di level yang aman.
"Pemenuhan LPG memang berasal dari impor, secara mayoritas. Jumlah impor akan disesuaikan untuk menjaga ketahanan stok agar tetap terjaga," jelasnya .
Di sisi lain, Pertamina tidak menampik adanya pengaruh dari dinamika global terhadap sektor energi. Robert menyebut koordinasi lintas sektoral terus diperkuat guna memitigasi dampak dari ketidakpastian geopolitik yang sedang terjadi saat ini.
"Kondisi geopolitik memang berdampak, itu sudah jelas," katanya.
Lebih lanjut, Robert menambahkan, sebagai langkah antisipasi, Pertamina Patra Niaga bersama Pemerintah terus memantau perkembangan situasi global secara intensif.
"Pemerintah dan Pertamina koordinasi intens untuk mengantisipasi dan menyiapkan langkah strategis dalam menghadapi kondisi terkini," pungkasnya.
Sebelumnya, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan ketahanan stok bahan bakar minyak (BBM) dan LPG selama periode Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri 12 Maret–31 Maret 2026 berada di atas batas minimum nasional.
Kepala Satgas Ramadan dan Idulfitri Sektor ESDM Erika Retnowati mengungkapkan, stok bensin tercatat di atas 20 hari, sementara solar berada di atas 18 hari. Adapun stok solar non-subsidi seperti Pertamina Dex mencapai lebih dari 40 hari.
Untuk bahan bakar pesawat (avtur), ketahanan stok dilaporkan mencapai 30 hari. Sementara itu, stok LPG berada di level 11,6 hari.
“Secara umum kondisi ketahanan stok BBM dilaporkan aman, baik untuk jenis gasoline, gasoil, kerosene, maupun avtur dengan ketahanan stok berhasil terjaga rata-rata di atas 20 hari,” ujar Erika dalam konferensi pers di Kantor BPH Migas, Selasa (31/3/2026).
Baca Juga: Ekspor Unggulan Indonesia Meningkat Pada Januari-Februari 2026, Kecuali Batubara
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













