Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indonesia memasuki awal April 2026 dengan latar belakang eksternal jangka pendek yang dinilai sedikit membaik setelah pengumuman gencatan senjata sementara antara AS dan Iran. Gencatan senjata itu membantu meredakan tekanan pada harga minyak dan mendukung penguatan rupiah.
Meski demikian, Fithra Faisal, Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia melihat kondisi makro masih rapuh, karena cadangan devisa Bank Indonesia (BI) terus menurun pada bulan Maret 2026 akibat intervensi aktif untuk menstabilkan nilai tukar di tengah tingginya yield global dan ketegangan geopolitik.
“Penurunan cadangan ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal sebelumnya cukup kuat, meskipun pendekatan BI tetap fokus pada stabilisasi volatilitas, bukan mempertahankan level nilai tukar tertentu,” ujar Fithra dalam keterangan resmi, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga: Kemenkeu: Insentif HGBT Gerus PNBP Rp 87 Triliun dalam 5 Tahun
Di sisi lain, Fithra mengatakan, kebijakan domestik tetap berfokus pada menjaga stabilitas di sektor fiskal, energi, dan sistem keuangan. Pemerintah tengah melakukan penyesuaian kebijakan ekonomi dan energi, sementara institusi terkait negara mengalami restrukturisasi melalui akuisisi oleh Danantara dan realignment strategis yang lebih luas.
Penurunan harga minyak pasca gencatan senjata memberikan relief sementara, namun dampak lanjutan dari shock energi sebelumnya masih terasa, terutama pada sektor seperti penerbangan melalui kenaikan fuel surcharge.
Sementara itu, ketahanan pangan dan manajemen stok tetap menjadi prioritas utama di tengah risiko geopolitik dan tekanan pasokan domestik. Secara keseluruhan, outlook jangka pendek Indonesia sedikit membaik, namun kerentanan eksternal, eksekusi kebijakan, dan tekanan sisi pasokan tetap menjadi tema utama memasuki kuartal II-2026.
Fithra menilai outlook ekonomi jangka pendek Indonesia menunjukkan perbaikan moderat setelah gencatan senjata AS-Iran, tercermin dari penguatan rupiah dan penurunan harga minyak. Hal ini membantu meredakan tekanan inflasi dan biaya impor. Namun, penurunan cadangan devisa menunjukkan bahwa Indonesia memasuki fase ini dari kondisi tekanan eksternal yang tinggi.
Ke depan, keberlanjutan gencatan senjata menjadi faktor kunci. Jika ketegangan kembali meningkat, tekanan terhadap harga minyak dan nilai tukar dapat kembali muncul.
“Secara keseluruhan, kondisi Indonesia masih manageable, namun ketahanan pada kuartal II – 2026 akan sangat bergantung pada stabilitas global dan efektivitas kebijakan domestik,” jelas Fithra.
Baca Juga: Tak Bisa Sembunyi, Ditjen Pajak Klaim Coretax Bisa Ungkap Rahasia Wajib Pajak
Seperti diketahui, cadangan devisa Indonesia turun menjadi US$ 148,2 miliar pada bulan Maret 2026 dari US$ 151,9 miliar pada Februari 2026, mencapai level terendah sejak Juli 2024. Penurunan ini mencerminkan intervensi berkelanjutan Bank Indonesia di pasar spot maupun domestic non-deliverable forward untuk mengelola volatilitas rupiah di tengah tekanan geopolitik dan yield global yang tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













