Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Produk tembakau alternatif, khususnya rokok elektrik (vape), menjadi pilihan bagi perokok dewasa di Inggris yang ingin meningkatkan peluang keberhasilan beralih dari kebiasaan merokok. Hal tersebut dibuktikan dalam jurnal ilmiah JAMA Network berjudul Prevalence of Popular Smoking Cessation Aids in England and Associations With Quit Success (2025).
Penelitian tersebut mengungkap fakta baru bahwa vape menjadi alat bantu beralih yang paling umum digunakan perokok dewasa di Inggris pada periode 2023–2024, dengan tingkat penggunaan mencapai sekitar 40%.
Baca Juga: Kemenkes Gandeng Guardian, Kenvue dan PDPI Perkuat Upaya Berhenti Merokok
Penelitian yang dipimpin oleh Principal Research Fellow in the UCL Alcohol and Tobacco Research Group, Sarah E. Jackson, menyebutkan penggunaan metode yang lebih efektif dapat meningkatkan keberhasilan seseorang untuk beralih dari kebiasaan merokok. "Upaya beralih dari kebiasaan merokok dengan bantuan vape memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan metode lain," katanya, dikutip Minggu (14/6/2026).
Guru Besar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (FKG Unpad), Prof. Dr. drg. Amaliya, M.Sc., Ph.D menilai perkembangan terhadap penggunaan produk tembakau alternatif sebagai alat bantu beralih dari kebiasaan merokok di Inggris menarik jika dilihat dari perspektif terobosan ilmiah untuk mengurangi bahaya tembakau.
Menurut dia, pendekatan tersebut diposisikan sebagai strategi pengurangan bahaya (harm reduction) yang bertujuan membantu perokok dewasa yang kesulitan berhenti merokok untuk beralih ke produk dengan profil risiko lebih rendah.
“Perkembangan penggunaan rokok elektrik sebagai alat bantu beralih dari kebiasaan merokok di Inggris menjadi salah satu studi kasus paling menonjol secara global dalam menggunakan inovasi untuk mengurangi bahaya tembakau. Pendekatan ini dipandang sebagai pengurangan bahaya yang proaktif dan didukung data ilmiah mengenai efektivitasnya membantu perokok dewasa beralih,” ujar Amaliya.
Ia menjelaskan, sejumlah faktor membuat produk tembakau alternatif dinilai lebih efektif dibanding terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy atau NRT) bagi sebagian konsumen. Perangkat tersebut dinilai mampu meniru aspek perilaku merokok, mulai dari gerakan tangan ke mulut hingga sensasi tertentu yang tidak ditemukan pada terapi seperti koyo atau permen nikotin.
Selain itu, rokok elektrik juga memungkinkan pengguna mengatur asupan nikotin secara bertahap sehingga dinilai membantu mengurangi dorongan untuk kembali merokok. Variasi perangkat juga disebut meningkatkan kepatuhan pengguna dalam proses beralih, terutama bagi perokok dewasa dengan tingkat ketergantungan tinggi.
Edukasi dan Pendekatan Ilmiah
Di sisi lain, Amaliya menekankan bahwa produk tembakau alternatif tidak sepenuhnya bebas risiko. Namun, perbedaan mendasar antara vape dan rokok adalah tidak adanya proses pembakaran. Vape menerapkan sistem pemanasan dan hasil penggunaannya berupa uap (aerosol), sementara rokok mengimplementasikan pembakaran sehingga memproduksi asap yang mengandung TAR dan karbon monoksida, dua senyawa berbahaya yang dikaitkan dengan berbagai penyakit akibat merokok.
Dalam penelitiannya terkait kesehatan mulut dan gingivitis, Amaliya melihat adanya perbedaan kondisi rongga mulut antara perokok dan pengguna produk tembakau alternatif. Ia menyebut perokok lebih rentan mengalami masalah gusi, perubahan warna gigi, hingga penumpukan plak akibat paparan asap pembakaran dan TAR.
“Perokok dewasa yang beralih ke produk alternatif menunjukkan kecenderungan kesehatan gusi yang lebih baik dibandingkan perokok. Namun, masyarakat tetap perlu memahami bahwa produk alternatif bukan bebas risiko dan penggunaannya harus disertai edukasi yang benar,” kata Amaliya.
Dengan fakta yang menunjukkan rokok elektrik terbukti menerapkan harm reduction, Amaliya menambahkan pentingnya edukasi agar produk rendah risiko kesehatan tersebut dapat dimanfaatkan secara luas di Indonesia sebagai alat bantu bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaan merokok.
Edukasi tersebut perlu menekankan bahwa produk alternatif ditujukan untuk perokok dewasa, bukan non-perokok, remaja, ataupun ibu hamil untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan. Namun demikian, Amaliya menegaskan bahwa standar terbaik bagi kesehatan tetap berhenti sepenuhnya dari penggunaan produk tembakau dan nikotin.
“Pendekatan riset dan kebijakan mengenai produk tembakau alternatif perlu berbasis bukti ilmiah yang objektif dan transparan. Diperlukan studi klinis jangka panjang, pelibatan akademisi independen, serta regulasi berbasis profil risiko agar masyarakat mendapatkan informasi yang utuh dan tidak menyesatkan mengenai produk tembakau alternatif,” ujar Amaliya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













