kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,52%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Sri Mulyani sebut ada indikasi inflasi jelang akhir tahun 2020


Kamis, 26 November 2020 / 10:40 WIB
Sri Mulyani sebut ada indikasi inflasi jelang akhir tahun 2020
ILUSTRASI. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengikuti?pertemuan KTT G20 tahun 2020 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, 22 November 2020.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan inflasi diproyeksi bakal kembali terjadi di bulan November ini. Adapun selama kuartal III kemarin, indeks harga konsumen (IHK) masih mencatatkan deflasi. Pada Oktober kemarin, terjadi inflasi tipis sebesar 0,07% secara bulanan atau month to month (mom).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mencatat secara kumulatif, masih tercatat inflasi tipis sebesar 0,95% year to date (ytd) dan secara tahunan sebesar 1,44% yoy. "Masih relatif rendah, karena ekonomi lemah. Baik dari sisi demand maupun supply," tutur Sri Mulyani, Senin (23/11).

Menurut Menkeu pada kuartal IV-2020 potensi terjadinya inflasi pada kuartal IV 2020 lantaran didorong oleh beberapa faktor.

Pertama, potensi peningkatan permintaan, terutama pada masa libur akhir tahun yakni perayaan Natal dan Tahun Baru. Pemerintah melihat, akan terjadi peningkatan pada komoditas pangan dan transportasi.

Baca Juga: Ekonom CORE melihat potensi peningkatan inflasi di kuartal IV-2020

Namun, Sri Mulyani mengingatkan kalau peningkatan akibat momen ini masih akan dibayangi oleh jumlah kasus positif Covid-10 yang masih tinggi sehingga berpotensi untuk memengaruhi kepercayaan masyarakat.

Kedua, adanya risiko peningkatan harga komoditas pangan bergejolak di akhir tahun 2020 dan awal 2021. Hal ini seiring dengan periode musim tanam, masuknya musim hujan, dampak La Nina, dan potensi kendala distribusi. Tapi kenaikan harga pangan ini bisa terbatas. Pasalnya, masih ada potensi permintaan rumah tangga masih akan rendah.

Berdasarkan survei Bank Indonesia, hingga minggu ketiga November 2020, diperkirakan pada bulan ini akan kembali terjadi inflasi sebesar 0,23% mom.

Baca Juga: Menanti Efek Anti Resesi Bunga Acuan BI

Menurut bank sentral, penyumbang utama inflasi akan datang dari kenaikan harga ayam daging ayam ras sebesar 0,09% mom, telur ayam ras sebesar 0,04% mom, bawang merah sebesar 0,03% mom, cabai merah dan cabai rawit masing-masing 0,02%.

Selain itu, inflasi juga bakal datang dari komoditas minyak goreng, tomat, bawang putih, dan jeruk, yang masing-masing mengalami peningkatan harga sebesar 0,01% mom.

Baca Juga: CORE: BI berpeluang turunkan suku bunga acuan maksimum 50 bps ke level 3,5% di 2021

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy juga melihat adanya peluang kenaikan harga barang alias inflasi di kuartal IV-2020.

"Setelah Oktober mengalami inflasi 0,07% mom, tren inflasi masih bisa terus berlanjut hingga akhir tahun ini," ujarnya kepada KONTAN, Selasa (24/11).

Selanjutnya: Pelaku pasar khawatir peningkatan kasus covid-19 di AS, rupiah menguat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×