kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.825.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.241   -67,00   -0,39%
  • IDX 7.129   -249,12   -3,38%
  • KOMPAS100 967   -37,26   -3,71%
  • LQ45 691   -25,11   -3,51%
  • ISSI 259   -8,46   -3,16%
  • IDX30 382   -11,34   -2,88%
  • IDXHIDIV20 471   -11,15   -2,31%
  • IDX80 108   -4,04   -3,60%
  • IDXV30 137   -2,36   -1,69%
  • IDXQ30 123   -3,19   -2,53%

Sri Mulyani: Risiko Sudah Bergeser, dari Pandemi ke Inflasi


Rabu, 29 Maret 2023 / 16:04 WIB
Menkeu Sri Mulyani saat High Level Dialogue Mengenai Inkllusi Ekonomi Bagi UMKM, Rabu (29/3) di Nusa Dua, Bali.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - BADUNG. Setelah menjadi permasalahan selama tiga tahun terakhir, pandemi Covid-19 akhirnya mereda. 

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan ini bukan berarti risiko perekonomian menghilang. Menurutnya, risiko perekonomian setelah pandemi Covid-19 atau mulai 2023, akan bergeser. 

"Pada tahun 2023, pandemi bukan lagi menjadi risiko, tetapi yang menjadi risiko yang harus diwaspadai adalah inflasi," terang Sri Mulyani dalam Seminar Enhancing Calibration for Macro-Financial Resilience, Rabu (29/3). 

Baca Juga: BI Diramal Tetap Tahan Suku Bunga hingga Akhir Tahun, Ini Alasannya

Sri Mulyani mengatakan, sebenarnya untuk menjaga inflasi, otoritas sudah sangat sigap. Salah satunya, dengan menaikkan suku bunga acuan. 

Di satu sisi, memang kenaikan suku bunga acuan akan menjangkar inflasi. Namun, di satu sisi, ini akan membuat harga pembiayaan menjadi lebih mahal. 

Dengan demikian, Sri Mulyani menambahkan, selain inflasi, risiko yang dihadapi setelah masa pandemi adalah suku bunga yang tinggi juga harga penerbitan surat utang pemerintah yang mahal. 

Dalam konteks ini, Sri Mulyani mengatakan salah satu yang penting adalah dengan melakukan konsolidasi antar otoritas sehingga stabilitas tetap terjaga. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×