kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Sri Mulyani: Meski Inflasi Bergerak Turun, Ekonomi Global Masih Lemah


Jumat, 23 Februari 2024 / 06:38 WIB
Sri Mulyani: Meski Inflasi Bergerak Turun, Ekonomi Global Masih Lemah
ILUSTRASI. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, perekonomian global diperkirakan masih dalam posisi yang lemah, meskipun inflasi sudah bergerak turun,


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek ekonomi dunia tahun ini masih belum akan cerah.

Perekonomian global masih belum membaik hingga saat ini. Bahkan banyak negara maju yang perekonomiannya semakin melemah, dan dikhawatirkan berdampak pada perekonomian Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, perekonomian global diperkirakan masih dalam posisi yang lemah, meskipun inflasi sudah bergerak turun, namun belum menurunkan suku bunga global yang melonjak tinggi dalam 18 bulan terakhir.

“Dalam kondisi geopolitik dan kondisi ekonomi global kita perlu mewaspadai karena situasinya tidak membaik, bahkan ada ketegangan-ketegangan baru. Perekonomian global 2024 diperkirakan masih dalam posisi yang lemah,” tutur Sri mulyani dalam konferensi pers APBN KITA, Kamis (22/2).

Baca Juga: Realisasi Belanja Pemerintah Pusat Mencapai Rp 96,4 Triliun pada Januari 2024

Pelemahan ekonomi global ini sejalan dengan proyeksi beberapa Lembaga internasional. Seperti Dana Moneter Internasional (IMF) yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2024 hanya 3,1%.

Bahkan proyeksi Bank Dunia lebih rendah, yaitu ekonomi global hanya tumbuh sebesar 2,4%.

Sri Mulyani menyebut, di antara banyak negara yang tumbang, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup baik diantara anggota G20 dan Asean yakni mencapai 5,05% pada 2023.

Ia juga memperkirakan, meski Inflasi global turun dan memberikan harapan akan menurunkan suku bunga, namun penurunan suku bunga ini akan terjadi pada semester II 2024.

Ruang kebijakan fiskal dan moneter di berbagai negara saat ini juga cenderung terbatas mengingat stimulus yang besar telah digelontorkan sejak pandemi Covid-19. Padahal, perkembangan ekonomi yang masih lemah masih membutuhkan dukungan dari kebijakan fiskal dan moneter.

“Ini harus menjadi perhatian kita bahwa kita perlu menavigasi situasi yang rentan dan beresiko dari situasi global,” kata Sri Mulyani. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×