Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah terus mengupayakan Indonesia menjadi tuan rumah sejumlah ajang olahraga internasional sebagai strategi mendorong sektor sport tourism sekaligus memperkuat kontribusi industri olahraga terhadap perekonomian nasional. Salah satu agenda yang tengah dibidik adalah penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengatakan pemerintah saat ini masih menunggu keputusan FIFA terkait penunjukan tuan rumah turnamen tersebut. Indonesia bersaing dengan sejumlah negara lain untuk menjadi penyelenggara kompetisi regional yang untuk pertama kalinya digelar secara resmi oleh FIFA.
"Mengenai FIFA ASEAN Cup, kami masih menunggu keputusan dari FIFA. Memang ada beberapa negara yang mengajukan, jadi kita juga berkompetisi dengan beberapa negara. Kami masih berjuang untuk meyakinkan FIFA," ujar Erick dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Kamis (2/7).
Baca Juga: Lewat Harkopnas, Kemenkop Dorong Koperasi Jadi Alternatif Usaha Produktif
Menurut Erick, apabila Indonesia terpilih menjadi tuan rumah, beban anggaran pemerintah relatif tidak besar. Sebab, FIFA akan menanggung berbagai kebutuhan penyelenggaraan, mulai dari akomodasi tim peserta, transportasi, hingga hadiah bagi para pemenang.
"FIFA juga mengeluarkan dana yang besar karena tim yang hadir nanti hotelnya, pesawat terbang, dan uang juaranya semua dari mereka. Karena itu banyak negara yang berebut menjadi tuan rumah," katanya.
Erick menambahkan Presiden Prabowo Subianto telah menyatakan dukungan penuh terhadap pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah. Namun, pemerintah baru akan menerbitkan surat dukungan resmi setelah proses negosiasi dengan FIFA memasuki tahap yang lebih pasti.
"Bapak Presiden menyampaikan pemerintah akan mendukung penuh. Beliau akan menandatangani suratnya kalau memang negosiasinya sudah hampir pasti," ujarnya.
Apabila ditunjuk sebagai tuan rumah, penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup diperkirakan berlangsung pada September hingga Oktober 2026. Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) menjadi salah satu kandidat lokasi pertandingan apabila jumlah peserta mencapai delapan negara.
"Kalau jumlah timnya delapan, Jakarta menjadi salah satu prioritasnya, di Gelora Bung Karno. Kami juga sedang menghitung stadion pendukung yang memenuhi standar FIFA, terutama kualitas rumput lapangannya," jelas Erick.
Selain FIFA ASEAN Cup, pemerintah juga terus mendorong penyelenggaraan berbagai ajang olahraga internasional sebagai bagian dari strategi pengembangan sport tourism. Erick menilai olahraga tidak lagi dapat dipandang sebagai beban anggaran (cost center), melainkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
"Olahraga sekarang harus dilihat sebagai revenue opportunity dan national branding. Paradigma ini yang sedang kami bangun bersama seluruh pemangku kepentingan," katanya.
Ia mengungkapkan nilai industri sport tourism dunia saat ini mencapai sekitar US$625 miliar atau sekitar Rp9.800 triliun, dengan pertumbuhan rata-rata 8% per tahun. Sementara industri olahraga global bernilai sekitar US$521 miliaratau sekitar Rp8.000 triliun dan diproyeksikan terus bertumbuh hingga 2032.
Menurut Erick, potensi tersebut perlu dimanfaatkan Indonesia untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.
"Sport tourism harus menjadi salah satu komponen pertumbuhan ekonomi. Kita punya sumber daya alam dan industrialisasi, tetapi potensi olahraga sering terlupakan," ujarnya.
Ia mencontohkan dampak ekonomi dari sejumlah ajang olahraga yang telah digelar di Indonesia. Penyelenggaraan MotoGP Mandalika, misalnya, telah menghasilkan dampak ekonomi hingga sekitar Rp4,9 triliun, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor perhotelan, restoran, dan investasi di kawasan sekitar.
Selain itu, maraknya penyelenggaraan lomba lari di berbagai daerah juga dinilai menciptakan perputaran ekonomi melalui peningkatan tingkat hunian hotel, konsumsi masyarakat, hingga penjualan perlengkapan olahraga.
Karena itu, Kemenpora berupaya memperkuat ekosistem olahraga nasional melalui penyelenggaraan kompetisi bertaraf internasional, pengembangan liga domestik, hingga pembinaan atlet jangka panjang.
Pemerintah berharap olahraga dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat citra Indonesia di tingkat global.
Baca Juga: Belarus Buka Peluang Fasilitas Bebas Visa & Konektivitas Penerbangan dengan RI
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













