Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang Februari dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan tekanan global yang saling terkait.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai gonjang-ganjing pasar pasca peringatan dari MSCI telah membuat investor kembali mengevaluasi risiko pasar keuangan Indonesia secara lebih menyeluruh.
Menurut Yusuf, penilaian investor saat ini tidak hanya bertumpu pada indikator fundamental ekonomi, tetapi juga pada kualitas tata kelola serta kepastian regulasi di pasar keuangan. Dalam situasi tersebut, rupiah menjadi lebih sensitif terhadap perubahan persepsi investor.
Baca Juga: Banggar DPR RI Titipkan Tujuh Agenda ke Kepemimpinan Baru OJK
"Jika tindak lanjut OJK dan BEI atas masukan MSCI tidak cukup cepat, jelas, dan meyakinkan, maka potensi keluarnya dana asing masih terbuka, dan tekanan terhadap rupiah akan terasa," ujar Yusuf dalam keterangannya, Minggu (1/2/2026).
Ia menambahkan, ke depan volatilitas rupiah juga masih akan dipengaruhi oleh ketidakpastian global, mulai dari arah suku bunga di negara maju, dinamika geopolitik, hingga pergeseran arus portofolio ke negara berkembang.
Di tengah kondisi global yang belum stabil, investor cenderung bersikap lebih hati-hati dan menuntut kompensasi risiko yang lebih besar.
Akibatnya, meskipun kondisi domestik relatif terjaga, rupiah tetap rentan terhadap sentimen negatif. Peluang pelemahan nilai tukar masih terbuka, terutama jika tekanan eksternal bertemu dengan isu kepercayaan di dalam negeri.
Baca Juga: Produksi Dalam Negeri Kurang, Pemerintah Tetap Perlu Impor Daging dan Susu untuk MBG
Yusuf menegaskan, menjaga stabilitas rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing. Menurutnya, yang lebih krusial adalah memperbaiki sumber sentimen yang mempengaruhi kepercayaan investor.
"OJK dan BEI perlu menunjukkan respons yang substansial terhadap masukan MSCI, dengan memperkuat transparansi, perlindungan investor, serta kepastian aturan main di pasar," katanya.
Selain itu, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter juga harus tetap kredibel dan konsisten agar tidak memunculkan risiko baru. Dengan respons kelembagaan yang kuat dan kebijakan makro yang terjaga, tekanan terhadap rupiah dinilai dapat dikelola lebih baik, meskipun volatilitas global masih membuat pergerakannya tetap menantang.
Selanjutnya: Pembiayaan Kendaraan Listrik Adira Finance Capai Rp 750 Miliar pada 2025
Menarik Dibaca: Harga emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian hari ini Minggu (1/2/2026) Kompak Turun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













