Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah memasang target realisasi investasi sebesar Rp 2.322 triliun pada 2027, naik 13,8% dari target 2026 yang sebesar Rp 2.041,3 triliun.
Namun, untuk mencapai target tersebut, pemerintah masih menghadapi tantangan dari sisi kepastian investasi dan melambatnya sejumlah sektor pendorong investasi.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan P. Roeslani mengatakan kenaikan target investasi tersebut sejalan dengan sasaran pertumbuhan ekonomi nasional 2027 yang berada di kisaran 5,8%-6,5%. Peran investasi terhadap perekonomian juga semakin besar.
Baca Juga: IHSG Anjlok, Rupiah Terjun Bebas: Risiko Investasi Indonesia Melonjak
Pada kuartal II-2026, ketika ekonomi Indonesia tumbuh 5,29%, investasi menyumbang sekitar 39% terhadap produk domestik bruto (PDB). Kontribusi tersebut lebih tinggi dibandingkan historis yang berada di kisaran 28%-29%.
Untuk mengejar target investasi, pemerintah akan memperkuat tiga aspek, yakni kepastian perizinan, percepatan konstruksi, serta penyelesaian berbagai hambatan yang muncul di lapangan.
Meski demikian, target investasi yang lebih tinggi juga menghadapi risiko dari sisi daya tarik dan prospek ekspansi bisnis di Indonesia.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, salah satu tantangan utama berasal dari melambatnya hilirisasi mineral yang selama ini menjadi salah satu motor pertumbuhan investasi.
Pada 2025, investasi hilirisasi tumbuh 43,3%. Namun, pertumbuhan tersebut melambat menjadi sekitar 6,9% pada semester I-2026.
Baca Juga: Risiko Investasi Indonesia Meningkat, Investor Diminta Lebih Selektif
Yusuf menilai siklus pembangunan smelter juga mulai memasuki fase yang lebih matang sehingga ruang ekspansi sektor tersebut tidak lagi sebesar beberapa tahun sebelumnya.
Risiko lainnya datang dari sisi permintaan. Pelemahan indeks keyakinan konsumen dan kontraksi penjualan riil berpotensi membuat pelaku usaha menahan ekspansi kapasitas produksi.
"Investasi biasanya akan lebih kuat ketika pelaku usaha melihat prospek permintaan yang cukup jelas, baik dari pasar domestik maupun ekspor," kata Yusuf.
Pemerintah juga berharap penanaman modal dalam negeri (PMDN), termasuk yang didorong melalui Danantara, dapat mengambil porsi lebih besar.
Baca Juga: Investasi Indonesia Diprediksi Melambat di Semester II-2026, Ini Penyebabnya
Namun, peningkatan PMDN tidak otomatis berarti terbentuknya investasi baru apabila hanya berupa pemindahan atau realokasi modal dari entitas yang sudah ada.
"Jika hanya realokasi modal dari entitas yang sudah ada, dampaknya terhadap pembentukan modal baru akan lebih terbatas," ujar Yusuf.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
