kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   6.000   0,23%
  • USD/IDR 17.928   15,00   0,08%
  • IDX 6.119   81,97   1,36%
  • KOMPAS100 788   11,28   1,45%
  • LQ45 603   7,78   1,31%
  • ISSI 213   2,98   1,42%
  • IDX30 336   5,02   1,52%
  • IDXHIDIV20 429   6,53   1,54%
  • IDX80 90   1,23   1,39%
  • IDXV30 116   1,54   1,34%
  • IDXQ30 110   1,55   1,44%

Hotspot Karhutla Indonesia Turun, Pemerintah Tetap Siagakan Operasi Darat dan Udara


Senin, 05 Oktober 2026 / 17:20 WIB
Hotspot Karhutla Indonesia Turun, Pemerintah Tetap Siagakan Operasi Darat dan Udara
ILUSTRASI. Area kebakaran lahan gambut (KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)


Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia mulai menurun, tetapi pemerintah belum mengendurkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kalimantan Tengah justru mencatat kenaikan hotspot dan menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian lebih.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Minggu (4/10) pukul 21.10 WIB, terdapat 527 hotspot high confidence secara nasional. Jumlah ini turun 139 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 666 titik.

Dari enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, total hotspot high confidence juga turun menjadi 225 titik dari 429 titik sehari sebelumnya.

Namun, tidak semua wilayah menunjukkan perbaikan. Kalimantan Tengah mencatat 116 hotspot, naik dari 96 titik pada hari sebelumnya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara enam provinsi prioritas.

Baca Juga: Hotspot Karhutla Turun, Kemenhut Perkuat Patroli dan Pemadaman

Sementara itu, hotspot di Sumatera Selatan turun signifikan dari 254 titik menjadi 75 titik. Kalimantan Barat turun dari 26 menjadi 19 titik dan Kalimantan Selatan dari 18 menjadi 15 titik. Riau dan Jambi masing-masing sudah tidak mencatat hotspot high confidence, dari sebelumnya 32 titik dan 3 titik.

"Penurunan hotspot perlu dijaga, tetapi kewaspadaan tetap harus dipertahankan," kata Ristianto Pribadi, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan (Kemenhut) seperti dikutp dari situs resmi Kemehut, Senin (5/10/2026)..

Ristianto menegaskan, hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan setiap indikasi masih perlu diverifikasi melalui groundcheck.

Karena itu, Kementerian Kehutanan tetap mengoperasikan pengendalian karhutla melalui patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, dan pendinginan. Operasi dilakukan di darat dan udara bersama Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, serta dunia usaha.

Perhatian khusus diberikan pada lahan gambut karena bara api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meski api di permukaan sudah tidak terlihat. Pembasahan dan pendinginan perlu dilakukan hingga kondisi lahan dinyatakan aman.

Di sisi lain, pemerintah juga terus memantau kualitas udara berdasarkan konsentrasi PM2,5. Sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang, tetapi masih terdapat sejumlah wilayah dengan kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat, terutama di sebagian Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Beberapa lokasi bahkan masuk kategori berbahaya.

Baca Juga: Menhut Klaim Hotspot Karhutla di Enam Provinsi Turun, Kalteng Justru Naik

Kondisi udara dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta kondisi atmosfer. Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi memburuk.

Karhutla juga berpotensi mengganggu habitat dan jalur pergerakan satwa liar. Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) melakukan pemantauan dan penanganan terhadap satwa terdampak.

Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke permukiman diminta tidak melakukan evakuasi sendiri. Penanganan sebaiknya dilaporkan kepada BKSDA atau petugas kehutanan agar dilakukan berdasarkan asesmen lapangan.

Kementerian Kehutanan juga mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Penurunan hotspot belum menjadi alasan untuk menurunkan kewaspadaan karena kondisi karhutla dapat berubah cepat mengikuti cuaca, kondisi lahan, dan aktivitas di lapangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×