Reporter: Dendi Siswanto, Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Belanja pemerintah belum mampu mengembalikan laju pertumbuhan ekonomi ke jalur yang lebih tinggi. Di sisi lain, ruang fiskal yang semakin sempit diperkirakan membatasi kemampuan pemerintah menopang ekonomi pada paruh kedua 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 sebesar 5,29% secara tahunan (YoY), melambat dari 5,61% pada kuartal I-2026.
Perlambatan ini terjadi meski konsumsi pemerintah masih tumbuh dua digit. Pada kuartal II-2026, konsumsi pemerintah meningkat 15,97% YoY. Namun, laju tersebut lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya sehingga belum mampu mengimbangi perlambatan aktivitas ekonomi.
Baca Juga: Pemerintah Tunda Pajak Marketplace, Purbaya: Berlaku Saat Daya Beli Masyarakat Pulih
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud mengatakan, pertumbuhan konsumsi pemerintah ditopang oleh peningkatan belanja pegawai serta belanja barang dan jasa.
"Konsumsi pemerintah didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa," ujar Edy, Rabu (5/8/2026).
Belanja pegawai meningkat seiring pembayaran gaji ke-13 bagi aparatur sipil negara (ASN), TNI, dan Polri, serta percepatan pembayaran tunjangan tenaga pendidik non-PNS.
Sementara itu, belanja barang dan jasa terdorong oleh pelaksanaan berbagai program pemerintah, terutama Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Realisasi anggaran MBG hingga Juni 2026 telah mencapai Rp 98,8 triliun, terdiri dari Rp 54,1 triliun pada kuartal I dan Rp 44,7 triliun pada kuartal II.
Baca Juga: Purbaya Yakin Ekonomi RI Menguat pada Semester II, Targetkan Pertumbuhan Mendekati 6%
Meski menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, konsumsi pemerintah hanya menyumbang 7,57% terhadap produk domestik bruto (PDB). Penopang utama ekonomi tetap berasal dari konsumsi rumah tangga dan investasi.
BPS mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% YoY dengan kontribusi 53,52% terhadap PDB. Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 6,87% YoY dengan kontribusi 29,36%.
Kedua komponen tersebut secara bersama-sama menyumbang 82,68% terhadap pembentukan PDB.
Pemerintah pun berupaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan pertumbuhan ekonomi mendekati 6% melalui peningkatan likuiditas di dalam negeri.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah menambah penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Pemerintah akan menginjeksikan SAL sebesar Rp 40 triliun pada pekan ini dan Rp 30 triliun pada pekan depan. Dengan demikian, total penempatan SAL di Himbara meningkat menjadi Rp 451 triliun dari Rp 381 triliun pada 29 Juni 2026.
Dana tersebut diharapkan dapat meningkatkan likuiditas perbankan sehingga bunga kredit turun dan penyaluran pembiayaan ke sektor riil semakin meningkat.
Namun, ekonom Bank Permata Faisal Rachman menilai ruang pemerintah untuk terus mengandalkan stimulus fiskal semakin terbatas. Pemerintah tetap harus menjaga kapasitas fiskal sebagai bantalan menghadapi potensi guncangan ekonomi.
Baca Juga: Purbaya Bakal Tambah Lagi Suntikan SAL Rp 70 Triliun ke Himbara
Menurut Faisal, kondisi tersebut membuat prospek pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026 cenderung lebih menantang, apalagi tekanan dari perang dagang, ketidakpastian geopolitik, dan perlambatan ekonomi China masih membayangi.
Karena itu, ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 hanya mencapai 5,26%, lebih rendah dari target APBN sebesar 5,4%.
Proyeksi tersebut mengindikasikan bahwa dorongan belanja pemerintah saja tidak lagi cukup untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap sesuai target tanpa dukungan konsumsi rumah tangga dan investasi yang lebih kuat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
