Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Februari 2026.
Kepala Ekonom Bank Pertama Josua Pardede menilai, BI mempertahankan BI-Rate di level 4,75% sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah risiko pasar keuangan yang meningkat.
Ia melihat, tekanan yang timbul akibat peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai isu free float, ditambah dengan revisi Moody's terhadap prospek utang negara Indonesia dari stabil menjadi negatif, berpotensi menyebabkan kenaikan premi risiko dan volatilitas aliran modal yang cenderung meningkat.
Baca Juga: Libur Imlek 2026, Kadin Ramalkan Pergerakan 6,4 Juta Orang Pacu Konsumsi Rumah Tangga
“Dalam konteks ini, kami memperkirakan BI akan terus memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan kepercayaan investor daripada pelonggaran moneter dalam jangka pendek,” tutur Josua kepada Kontan, Senin (17/2/2026).
Oleh karena itu, Josua memperkirakan ruang untuk pemotongan suku bunga kebijakan tetap terbatas setidaknya hingga tekanan eksternal mereda dan sentimen pasar membaik.
Sebelumnya, BI menyebut masih membuka peluang untuk kembali memangkas suku bunga acuan atau BI rate ke depan. Ruang pelonggaran tersebut didukung oleh inflasi inti yang tetap rendah serta kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional agar lebih kuat.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, dalam merumuskan kebijakan moneter, bank sentral selalu mempertimbangkan tiga indikator utama, yakni inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Hari Ini (17/2), Pemerintah Akan Gelar Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadhan 1447 H
Dari ketiganya, inflasi inti menjadi indikator fundamental karena mencerminkan kemampuan kapasitas ekonomi dalam memenuhi permintaan.
“Inflasi inti pada Desember 2025 tercatat 2,38%. Angka ini relatif rendah karena masih di bawah titik tengah sasaran inflasi 2,5% plus minus 1%,” ujar Perry dalam konferensi pers, Selasa (27/1/2026).
Menurut Perry, rendahnya inflasi inti menunjukkan bahwa kapasitas ekonomi nasional masih lebih besar dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi saat ini. BI memperkirakan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua tahun ke depan berada di kisaran 5,8% hingga 6,2%.
Selanjutnya: 6 Tanda pada Tubuh Ketika Terlalu Banyak Konsumsi Serat
Menarik Dibaca: 6 Tanda pada Tubuh Ketika Terlalu Banyak Konsumsi Serat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)