kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.074   -36,00   -0,20%
  • IDX 6.053   13,08   0,22%
  • KOMPAS100 791   2,79   0,35%
  • LQ45 601   1,99   0,33%
  • ISSI 210   -0,40   -0,19%
  • IDX30 340   1,04   0,31%
  • IDXHIDIV20 423   0,78   0,19%
  • IDX80 90   0,29   0,32%
  • IDXV30 115   -0,26   -0,22%
  • IDXQ30 109   0,27   0,25%

Risiko krisis paling rendah, Indonesia masih punya banyak masalah


Rabu, 12 September 2018 / 16:51 WIB
ILUSTRASI. Nomura


Reporter: Adinda Ade Mustami | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia termasuk negara dengan risiko paling rendah terpapar krisis berdasarkan analisis yang dilakukan Nomura Holdings Inc. Tingkat kerentanan Indonesia memang cukup baik, tetapi dinilai harus tetap waspada.

Dalam analisis Nomura, Indonesia memperoleh skor nol terkait risiko krisis moneter selain Brazil, Bulgaria, Kazakhstan, Peru, Filipina, Rusia, dan Thailand.

Hal itu dinilai dari cukup tingginya cadangan devisa (cadev) Indonesia yang sebesar US$ 117,9 miliar dan rendahnya rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), bisa menahan pelemahan nilai tukar lebih lanjut.

Selain itu, pemerintah Indonesia juga telah melakukan serangkaian upaya untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD).

Ekonom sekaligus Asian Development Bank Institute Eric Sugandi sependapat dengan analisis tersebut. Namun menurutnya, "Bukan berarti tidak ada masalah yang harus diperbaiki di fundamental ekonomi Indonesia," kata Eric kepada Kontan.co.id, Rabu (12/9).

Persoalan yang dimaksud, pertama, neraca transaksi berjalan yang masih defisit. Kedua, porsi kepemilikan asing yang signifikan di Surat Berharga Negara (SBN) dan saham sehingga rupiah rentan terhadap outflows.

Ketiga, likuiditas dollar Amerika Serikat (AS) yang terbatas di perekonomian Indonesia dan terkonsentrasi di bank-bank besar.

Ia melanjutkan, cadev masih cukup banyak untuk bisa digunakan BI sebagai bantalan dari tekanan eksternal sambil menunggu pemerintah perkecil CAD.

Jika kurang, Indonesia bisa menggunakan second line of defense yang sebesar line US$ 22,76 miliar dari Chiang Mai Initiative Multilateralization.

Oleh karena itu, "Walau belum krisis, sikap berjaga-jaga dari BI dan pemerintah tetap perlu. Saya pikir pemerintah dan BI juga telah dan sedang mengambil langkah-langkah antisipatif," tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×