Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5% untuk tahun 2026. Revisi proyeksi ini didorong oleh risiko global, khususnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Di satu sisi Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga mengalami penurunan, namun pemerintah tetap optimistis dapat mencapai target pertumbuhan 5,5% pada kuartal I – 2026.
Meskipun menghadapi tantangan eksternal seperti fluktuasi harga minyak global dan guncangan energi, Fithra Faisal, Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Di tingkat global, Pertamina mulai memposisikan diri untuk memanfaatkan peluang di sektor energi, termasuk pengolahan minyak mentah Rusia.
Baca Juga: Hari ini Jadwal WfH bagi ASN, Apakah Aturan Ganjil Genap di Jakarta Tetap Berlaku?
Sementara itu, investor asing cenderung memilih investasi portofolio dibandingkan investasi langsung (FDI), dengan investor AS menunjukkan kehati-hatian terhadap prospek jangka panjang Indonesia.
“Ke depan, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh risiko eksternal, khususnya konflik di Timur Tengah yang menekan harga energi global. Kebijakan fiskal pemerintah dan kekuatan permintaan domestik akan menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas,” jelas Fithra dalam keterangan resmi, Jumat (17/4/2026).
Fithra melihat upaya menarik investasi asing akan bergantung pada kejelasan kebijakan ekonomi serta kemampuan Indonesia dalam meredam dampak ketidakpastian global. Dengan harga minyak yang meningkat, langkah proaktif Indonesia dalam mengamankan pasokan energi dan menjaga stabilitas industri domestik akan menjadi faktor penting untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi.
Seperti diketahui, selain menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia, IMF juga menurunkan proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,1%, mencerminkan kenaikan harga komoditas, inflasi, serta melemahnya sentimen pasar keuangan. Negara berkembang seperti Indonesia yang bergantung pada impor komoditas menjadi lebih rentan, terutama karena depresiasi mata uang memperparah dampak kenaikan harga energi dan pangan.
Baca Juga: Pemerintah Tetap Beli Minyak Mentah dari AS Meskipun dapat Pasokan dari Rusia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













