kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Publik tidak ingin Jokowi cuma jadi wakil


Senin, 23 Desember 2013 / 22:23 WIB
ILUSTRASI. Cara Download MP3 Juice Terbaru Anti Ribet, Pemula Juga Bisa Memahami dengan Mudah


Reporter: Ferry Hidayat | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Jika Jusuf Kalla di favoritkan untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres), lain lagi dengan Joko Widodo (Jokowi). Publik justru cenderung tidak menginginkan Jokowi menjadi cawapres siapapun.

Hal tersebut menjadi kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh lembaga survei nasional, Charta Politika Indonesia.

"Perolehan suara Jokowi selalu diatas 40% bila dipasangkan dengan siapapun dalam bursa capres. Namun berbeda jika Jokowi maju sebagai cawapres dari Megawati, perolehan suaranya malah turun menjadi 23,3%," kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya di Gedung DPR, Senin (23/12).

Yunarto menilai sosok Jokowi cenderung diterima di semua kalangan. Selain itu, Jokowi justru lebih diterima konstituen internal PDI Perjuangan (PDIP) dibandingkan sosok Megawati.

"Jika di cross tabulation, konstituen PDIP yang memilih Jokowi sebagai capres 67,2% dan hanya 10,6% konstituen PDIP yang memilih Megawati jika menjadi Capres," tandasnya.

Sementara itu, Yunarto menuturkan bahwa survei ini dilakukan dengan skala nasional pada 28 November sampai 6 Desember 2013 melalui wawancara tatap muka. Populasi survei seluruh warga Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas dengan 1.200 responden dengan margin of error sebesar 2,83% pada tingkat kepercayaan 95%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×