kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   31.000   1,17%
  • USD/IDR 17.658   -18,00   -0,10%
  • IDX 6.696   28,12   0,42%
  • KOMPAS100 876   4,20   0,48%
  • LQ45 666   2,80   0,42%
  • ISSI 233   1,02   0,44%
  • IDX30 372   1,39   0,37%
  • IDXHIDIV20 460   0,92   0,20%
  • IDX80 100   0,43   0,44%
  • IDXV30 127   0,41   0,32%
  • IDXQ30 119   0,40   0,34%

Program MBG Makan Korban Lagi, 1.700 Orang Keracunan dalam Tiga Hari


Jumat, 04 September 2026 / 08:02 WIB
Program MBG Makan Korban Lagi, 1.700 Orang Keracunan dalam Tiga Hari
ILUSTRASI. Kasus Keracunan MBG (REUTERS/Suryanto)


Sumber: Reuters | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kasus keracunan makanan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia kembali bertambah.

Sebanyak 777 siswa dan guru di Jawa Tengah dilaporkan mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program pemerintah tersebut.

Tambahan kasus itu membuat jumlah orang yang jatuh sakit akibat program MBG mencapai lebih dari 1.700 orang hanya dalam kurun waktu tiga hari.

Baca Juga: Mendadak Viral, Pertamina Batalkan Rencana Tunjukkan STNK Untuk Syarat Beli BBM

Di lokasi lain, sebanyak 950 orang di tiga wilayah berbeda juga dilaporkan mengalami keracunan makanan sepanjang pekan ini setelah mengonsumsi makanan dari program MBG.

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program MBG pada tahun lalu dengan anggaran miliaran dolar. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan asupan gizi puluhan juta anak di Indonesia.

Namun, pelaksanaannya menghadapi berbagai persoalan, mulai dari dugaan korupsi, pergantian kepemimpinan hingga serangkaian kasus keracunan makanan secara massal.

Penyimpanan makanan yang tidak tepat dan keterlambatan distribusi makanan yang sudah dimasak kerap disebut sebagai faktor penyebab keracunan.

Baca Juga: Kepala BGN Pastikan Insentif SPPG Rp 6 Juta Masih Berlaku, Ini Skema Barunya

Ratusan Siswa dan Guru Keracunan

Di sebuah sekolah menengah atas di Lasem, Jawa Tengah, sebanyak 752 siswa dan 25 guru mengalami diare dan muntah setelah mengonsumsi makanan MBG pada Rabu (2/9/2026).

Kepala sekolah Juhartutik mengatakan, menu yang dibagikan kepada para siswa berupa ayam bakar. Sebelum makanan didistribusikan, petugas pencicip makanan menemukan sebagian ayam dalam kondisi berlendir.

"Yang berlendir sudah dipisahkan. Operator dapur mengatakan makanan tersebut dimasak pukul 03.00 dan dimakan pada siang hari," ujar Juhartutik dilansir dari Reuters.

Sebagian besar korban kemudian dipulangkan ke rumah. Namun, dokter setempat Joko Paryanto mengatakan 15 siswa dan guru harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengatakan kasus keracunan makanan tersebut akan ditangani secara serius.

Pernyataan itu disampaikan Sudaryono dalam rapat dengan parlemen yang membahas pelaksanaan program MBG.

Baca Juga: BGN Buka Suara soal Kasus Keracunan MBG yang Bisa Berujung Pidana

Kasus Keracunan Terjadi di Sejumlah Daerah

Kasus serupa juga terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur. Pada Selasa (1/9/2026), sebanyak 664 siswa dilaporkan mengalami keracunan makanan.

Dapur yang terkait dengan kasus tersebut kemudian dihentikan operasionalnya pada Rabu.

Sementara itu, dua kasus lainnya terjadi pada Rabu. Sebanyak 49 orang di Nganjuk, Jawa Timur, dan 237 orang di wilayah Agam, Sumatera Barat, dilaporkan mengalami keracunan.

Anggota parlemen Charles Honoris, yang mengutip data dinas kesehatan, mengatakan kasus-kasus tersebut bukan kejadian yang berdiri sendiri.

"Ini merupakan kegagalan sistem," tulis Charles melalui akun Instagram-nya.

Charles juga mengatakan data dinas kesehatan menunjukkan sekitar 50.000 orang telah terdampak kasus keracunan makanan hingga 1 September 2026.

Baca Juga: RI-Malaysia Perkuat Kerja Sama Ekonomi, Perdagangan dan Investasi Jadi Fokus

Kepuasan terhadap Program MBG

Program MBG merupakan salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah mengalokasikan sekitar US$12,94 miliar untuk program tersebut.

Namun, pelaksanaan MBG masih menghadapi tantangan, terutama terkait keamanan pangan dan distribusi makanan.

Survei Saiful Mujani Research and Consulting pada Juli menunjukkan hanya sekitar sepertiga masyarakat yang menyatakan puas terhadap program tersebut. Kasus keracunan makanan menjadi salah satu alasan utama rendahnya tingkat kepuasan masyarakat.

Dengan meningkatnya jumlah kasus keracunan, pengelolaan rantai pasok, standar keamanan pangan, waktu distribusi, serta pengawasan dapur MBG menjadi sorotan dalam pelaksanaan program yang menyasar puluhan juta penerima manfaat tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×