kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Perluasan hutan berbasis rakyat belum optimal


Rabu, 16 April 2014 / 15:03 WIB
Perluasan hutan berbasis rakyat belum optimal
ILUSTRASI. Pabrik Piaggio Indonesia memproduksi skutik di antara merek Vespa


Reporter: Mona Tobing | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Target Kementrian Kehutanan (Kemenhut) memperluas lahan untuk hutan berbasis masyarakat masih jauh dari realisasi. Hingga April ini, luas hutan berbasis masyarakat baru mencapai 546.000 hektare (ha) dari target 2,5 juta ha di 2014.

Dari luas hutan Indonesia 130 juta ha, hanya 3% yang dikuasai rakyat. Sedangkan 97% dikuasai perusahaan swasta.

Nini Irawati, Kasubdit Pengembangan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Kemenhut memaparkan, pengelolaan hutan berbasis masyarakat kerap menimbulkan konflik warga sekitar, terutama masyarakat adat setempat.

Kurangnya pemahaman antarpemerintah daerah dan masyarakat sekitar membuat program hutan berbasis masyarakat kurang berhasil di lapangan. Ke depan, kata Nini, Kemenhut akan mengubah konsep HKM dari fokus pemberian izin menjadi pemberdayaan masyarakat hutan sekitar.

"Mereka akan didampingi untuk mengelola hutan hingga membentuk kelompok dan usaha tani," ujar Nini, Rabu (16/4).

Saat ini, luas hutan berbasis masyarakat hanya mencapai 546.000 ha, dimana sebanyak 312.000 ha berasal dari Hutan kemasyarakatan. Sisanya, 234.000 ha dari hutan desa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×