Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perlambatan inflasi pada Juli 2026 dinilai belum menandai dimulainya tren penurunan harga yang berkelanjutan.
Ekonom memperingatkan tekanan inflasi masih berpotensi meningkat pada paruh kedua tahun 2026 ini seiring ancaman gangguan pasokan pangan akibat El Niño dan kenaikan permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi 0,14% secara bulanan (mtm) pada Juli 2026, berbalik dari inflasi 0,44% mtm pada Juni.
Baca Juga: Inflasi Mei 2026 Diprediksi Naik, Harga Pangan dan BBM Jadi Pemicu
Secara kumulatif, inflasi tahun kalender mencapai 1,65% year to date (ytd), turun dari 1,79% ytd pada bulan sebelumnya. Sementara inflasi tahunan (yoy) melandai menjadi 2,88% dari 3,34% pada Juni.
Lead Economist Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz, menilai perlambatan inflasi tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor sementara, terutama penurunan harga sejumlah komoditas pangan dan bahan bakar non-subsidi.
"Inflasi yang lebih rendah pada Juli harus dilihat sebagai bantuan sementara dan bukan awal dari tren disinflasi yang berkelanjutan," ujar Irman dalam keterangannya, Senin (3/8).
Ia menjelaskan, turunnya inflasi terutama berasal dari penurunan musiman harga bawang merah, cabai, telur ayam, tomat, serta sejumlah komoditas pangan lainnya.
Penurunan harga bahan bakar non-subsidi juga menekan inflasi pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices).
Baca Juga: Inflasi Juli 2026 Diprediksi Melandai, Ancaman El Nino dan Rupiah Membayangi
Namun, tekanan harga di sektor lain dinilai masih cukup kuat. Inflasi inti tetap bertahan di level 2,76% yoy, sementara harga pada kelompok transportasi, restoran, pendidikan, dan perawatan pribadi masih mencatat kenaikan.
Menurut Irman, kondisi tersebut menunjukkan perlambatan inflasi Juli lebih disebabkan oleh membaiknya pasokan pangan dalam jangka pendek, bukan karena tekanan inflasi di dalam perekonomian telah mereda secara luas.
Ke depan, ia melihat risiko inflasi masih cukup tinggi. Puncak fenomena El Niño yang diperkirakan terjadi pada kuartal III-2026 berpotensi mengganggu produksi pangan sehingga memicu kenaikan harga bahan makanan.
Di sisi lain, implementasi program Makan Bergizi Gratis diperkirakan akan meningkatkan permintaan pangan. Jika peningkatan permintaan tersebut tidak diimbangi tambahan pasokan, inflasi pada kelompok volatile food berpotensi kembali meningkat.
Dengan prospek tersebut, Irman memperkirakan Bank Indonesia masih akan mempertahankan kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas.
Baca Juga: Inflasi Tahunan pada Juli 2026 Diproyeksi Naik Jadi 3,54%
Menurutnya, bank sentral akan tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah sembari mencermati perkembangan pasokan pangan, inflasi impor, serta risiko kenaikan harga komoditas global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
