kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Perbaiki neraca dagang, Indonesia harus mempersempit neraca nonmigas dengan China


Senin, 16 September 2019 / 20:07 WIB
ILUSTRASI. Indonesia harus mempersempit neraca nonmigas dengan China untuk memperbaiki kinerja neraca perdagangan.


Reporter: Bidara Pink | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) menyarankan pemerintah untuk mempersempit defisit neraca dagang nonmigas dengan China demi memperbaiki kinerja neraca perdagangan Indonesia.

Catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor nonmigas Indonesia ke China pada periode Januari 2019 - Agustus 2019 mencapai US$ 15,95 miliar. Sebaliknya Impor non migas dari China sebanyak US$ 28,47 miliar. Alhasil, Indonesia defisit neraca perdagangan non migas dengan China senilai US$ 12,52 miliar .

Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta pun menawarkan beberapa solusi untuk memperbaiki neraca dagang nonmigas dengan China. Pertama, meningkatkan ekspor Indonesia dengan cara mengoptimalkan penggunaan non tariff barrier dalam ASEAN China Free Trade Area (ACFTA).

Baca Juga: Agustus 2019, impor turun 15,6% secara tahunan menjadi US$ 14,20 miliar

Kedua, dengan penerapan Standard Nasional Indonesia (SNI) serta melengkapi produk-produk ekspor dengan bahasa Mandarin sehingga memudahkan proses ekspor.

Produk dengan bahasa Mandarin dianggap lebih mudah untuk dipahami oleh para penduduk China, sehingga nantinya produk ekspor tersebut lebih diminati oleh mereka.

Selanjutnya, ketiga, memastikan bahwa seluruh transaksi yang terkait dengan e-commerce dari negara mitra dagang adalah legal.

"Selain itu, diharapkan pemerintah juga memiliki daya juang yang lebih agar produk-produk Indonesia bisa terus memasuki pasar ekspor yang lebih luas," kata Arif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×