Reporter: Hans Henricus | Editor: Hendra Gunawan
JAKARTA. Selain menggenjot industri pertahanan dalam negeri, Pemerintah masih mengandalkan model pembiayaan pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) dengan kredit ekspor.
Menurut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, saat ini, Pemerintah memiliki alokasi kredit ekspor yang ditetapkan pada masa pemerintahan periode 2004-2009 sebesar US$ 3,7 miliar. "Kami akan terus penuhi itu. Sementara ini masih dalam perjalanan untuk menyelesaikan alokasi kredit ekspor itu," ujar Purnomo seusai bertemu Presiden di kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (4/11).
Purnomo mengatakan, pengadaan alutsista strategis tetap ada. Namun, perlu ada perencanaan yang jelas dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengenai spesifikasi dan kualifikasi alutsista. "Sehingga industri pertahanan bisa melihat yang dipersiapkan ke depan itu apa," imbuh mantan Menteri Energi Sumber Daya Mineral itu.
Yang jelas, kata Purnomo, ada sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan industri pertahanan. Pertama, masalah pendanaan. Kedua, multiplier effect, kalau kita mengembangkan industri pertahanan makan akan tumbuh kegiatan-kegiatan lain.
Ketiga, terkait kebutuhan-kebutuhan TNI, misalnya kualifikasi dari alutsista, kualifikasi kekuatan tiap angkatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News