kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Pemerintah targetkan bisa berhemat Rp 5 triliun


Selasa, 29 Mei 2012 / 21:43 WIB
ILUSTRASI. Kacang salah satu sumber protein untuk membantu menurunkan berat badan


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Pemerintah berharap gerakan penghematan energi nasional bisa mengerem konsumsi energi yang berlebihan. "Target penghematan melalui kebijakan ini sekitar Rp 5 triliun sampai akhir Desember," kata Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik, Selasa (29/5).

Dalam APBN-P 2012, subsidi energi sebesar Rp 225 triliun dengan rincian subsidi BBM Rp137 triliun, subsidi listrik Rp65 triliun, dan cadangan risiko fiskal energi Rp23 triliun.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato seruan penghematan nasional menyebutkan, anggaran untuk subsidi BBM dan listrik jumlahnya sangat besar, dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2010, subsidi BBM dan listrik telah mencapai Rp 140 triliun. Dan di 2011 meningkat lagi menjadi Rp 256 triliun.

Meningkatnya subsidi ini dikarenakan tingginya harga minyak dunia, serta meningkatnya penggunaan BBM dan listrik, baik oleh masyarakat, angkutan atau transportasi, maupun untuk kalangan industri.

"Besarnya subsidi BBM dan listrik, mengakibatkan berkurangnya kemampuan pemerintah untuk membangun infrastruktur seperti jalan, jembatan, irigasi, pelabuhan laut, dan bandar udara," jelasnya.

Di samping itu, besarnya anggaran subsidi BBM dan listrik juga berpotensi meningkatkan defisit anggaran negara, karena penerimaan negara lebih kecil dari belanja negara. Mau tidak mau, defisit anggaran harus ditutup, salah satu caranya dengan mencari pinjaman atau utang baru.

"Cara seperti ini tentu bukan pilihan kita. Kita tidak ingin utang kita terus meningkat, dan akhirnya membebani anak-cucu kita. Justru sebaliknya, yang kita inginkan menurunkan rasio utang yang kita tanggung, dari waktu ke waktu," sebutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×