kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.910   40,00   0,22%
  • IDX 5.662   -158,96   -2,73%
  • KOMPAS100 731   -21,13   -2,81%
  • LQ45 557   -15,85   -2,77%
  • ISSI 196   -4,87   -2,42%
  • IDX30 317   -8,35   -2,57%
  • IDXHIDIV20 392   -9,38   -2,34%
  • IDX80 83   -2,44   -2,85%
  • IDXV30 106   -1,97   -1,82%
  • IDXQ30 103   -2,28   -2,17%

Pemerintah Pacu Perdagangan Indonesia-Belarus Lewat Ratifikasi I-EAEU


Selasa, 30 Juni 2026 / 14:20 WIB
Pemerintah Pacu Perdagangan Indonesia-Belarus Lewat Ratifikasi I-EAEU
ILUSTRASI. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (KONTAN/Dendi Siswanto)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mempercepat ratifikasi perjanjian perdagangan Indonesia–Eurasian Economic Union (I-EAEU) untuk memperluas akses pasar sekaligus mendongkrak nilai perdagangan Indonesia dengan Belarus. 

Melalui implementasi perjanjian itu, pemerintah membidik perdagangan bilateral meningkat menjadi US$ 500 juta dari posisi saat ini sekitar US$ 220 juta.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan penguatan kerja sama ekonomi kedua negara ditandai dengan meningkatnya komitmen pelaku usaha. 

Baca Juga: Investasi Jadi Andalan Ekonomi 2027, Pemerintah Bidik Pertumbuhan PMTB 6,5%-7%

“Pada kesempatan ini (Forum Bisnis Indonesia-Belarus dan Business Matching) tadi disaksikan 17 MoU, business to business," ujar Airlangga di Jakarta, Selasa, usai menghadiri acara Forum Bisnis Indonesia-Belarus dan Business Matching.

Menurut Airlangga, perdagangan Indonesia dengan Belarus yang kini mencapai sekitar US$ 220 juta telah meningkat sejak 

penandatanganan I-EAEU. Pemerintah berharap nilai perdagangan kedua negara dapat terdongkrak hingga mencapai US$ 500 juta.

Ia mengatakan, pemerintah kini mendorong agar perjanjian I-EAEU segera diratifikasi. Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan surat kepada DPR, sementara Rusia dan Belarus lebih dahulu menyelesaikan proses ratifikasi.

Airlangga menjelaskan, setelah perjanjian berlaku efektif, lebih dari 90% produk Indonesia yang masuk ke kawasan EAEU, termasuk Belarus, akan menikmati fasilitas bea masuk nol persen. Sebaliknya, sebagian besar produk Belarus juga akan memperoleh perlakuan yang sama saat masuk ke pasar Indonesia.

Baca Juga: Business Judgment Rule Diharapkan Perkuat Tata Kelola Danantara dan Menarik Investor

Selain itu, pemerintah juga membuka peluang kerja sama di sektor industri strategis. Airlangga mengatakan Belarus merupakan salah satu produsen alat berat terbesar di kawasan Eurasia sehingga terdapat peluang kolaborasi dalam elektrifikasi alat berat menggunakan baterai berbasis nikel dari Indonesia.

Menurutnya, kerja sama tersebut sejalan dengan program hilirisasi nikel sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi karbon melalui pemanfaatan kendaraan dan alat berat berbasis listrik.

Pemerintah juga menjajaki kerja sama di sektor pupuk. Airlangga mengungkapkan PT Pupuk Indonesia tengah mengkaji peluang mengambil kepemilikan saham pada tambang potas di Belarus untuk memperkuat pasokan bahan baku pupuk NPK.

"Kalau tanpa kepemilikan, seperti sekarang kalau ada disrupsi, impornya juga bisa terdisrupsi," ujarnya.

Ia menambahkan, kunjungan kenegaraan Presiden Belarus Alexander Lukashenko ke Indonesia pada 1 Juli mendatang diharapkan mempercepat implementasi berbagai kesepakatan yang telah dibahas dalam Joint Commission Meeting di Belarus pada Mei lalu.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, James T. Riady, mengatakan arah kebijakan ekonomi pemerintah saat ini menciptakan peluang baru bagi Belarus untuk memperluas investasi di Indonesia. 

“Sejalan dengan visi Presiden Prabowo untuk memperkuat basis manufaktur Indonesia, kapabilitas industri, ketahanan pangan, produktivitas pertanian, dan kapasitas teknologi,” kata James. 

Menurut James, bergesernya pusat pertumbuhan ekonomi dunia ke kawasan Asia-Pasifik membuat posisi Indonesia semakin strategis. 

Apalagi Indonesia tidak hanya menawarkan pasar domestik berpenduduk sekitar 285 juta jiwa, tetapi juga menjadi pintu masuk menuju pasar ASEAN yang dihuni lebih dari 680 juta penduduk.

Lebih lanjut, ia mendorong pelaku usaha nasional memanfaatkan Belarus sebagai basis untuk mengembangkan bisnis ke kawasan Eurasia melalui investasi maupun pembentukan usaha patungan. 

Menurut James, kerja sama ekonomi akan lebih cepat berkembang apabila didukung komitmen dunia usaha, bukan semata-mata hubungan antarpemerintah.

Di sisi lain, Wakil Perdana Menteri Belarus, Viktor Karankevich, mengatakan masih banyak ruang untuk memperluas kolaborasi kedua negara. 

Ia menambahkan, sektor pertanian, kesehatan, pendidikan, dan teknologi menjadi bidang yang berpotensi dikembangkan, seiring meningkatnya interaksi pelaku usaha Indonesia dan Belarus melalui forum bisnis tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×