kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.955   -18,00   -0,10%
  • IDX 6.004   119,85   2,04%
  • KOMPAS100 781   17,27   2,26%
  • LQ45 591   12,50   2,16%
  • ISSI 208   4,58   2,25%
  • IDX30 335   7,34   2,24%
  • IDXHIDIV20 410   8,29   2,06%
  • IDX80 89   1,92   2,22%
  • IDXV30 111   2,61   2,40%
  • IDXQ30 107   2,43   2,31%

Pemerintah kejar pertumbuhan investasi langsung, Ekonom: Kualitas juga penting


Kamis, 28 November 2019 / 19:17 WIB
ILUSTRASI. Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendampingi Presiden Joko Widodo dalam kunjungan bilateral ke Korea Selatan pada 24 November-26 November 2019.


Reporter: Grace Olivia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah tengah berupaya menarik investasi langsung alias foreign direct investment (FDI) sebesar-besarnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengatasi permasalahan defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). 

Meski masih tumbuh, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menilai penarikan FDI ke Indonesia harus lebih masif demi mengentaskan masalah CAD. Ia mengakui itu bukan hal mudah sebab kini hampir seluruh negara berbondong-bondong menarik investasi langsung masuk ke negaranya. 

Baca Juga: Jokowi minta CAD tuntas dalam empat tahun, Menko Airlangga siapkan jurus quick-wins

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Ahmad Mikail Zaini menilai, porsi FDI yang lebih tinggi memang dibutuhkan untuk menutup CAD Indonesia yang rata-rata mencapai US$ 28 miliar setiap tahun dalam kurun lima tahun terakhir. Langkah pemerintah merancang Undang-Undang Omnibus Law untuk memperbaiki iklim investasi pun dinilainya tepat. 

Meski begitu, Mikail mengingatkan agar pemerintah jangan terlalu ambisius mengejar jumlah dan pertumbuhan FDI semata. “Tapi bagaimana kualitas FDI yang masuk itu, apakah menyasar sektor-sektor yang produktif’ dalam perekonomian kita untuk menyelesaikan CAD,” tutur Mikail kepada Kontan.co.id, Kamis (28/11). 

Mikail memandang, penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa investasi langsung masuk ke sektor-sektor yang menghasilkan komoditas ekspor seperti sektor pertanian, perikanan, pertambangan, serta industri olahan (manufaktur).

Baca Juga: Harga emas diprediksi bakal berkilau setelah hubungan AS dan China kembali memanas

Sayangnya, porsi aliran FDI ke sektor-sektor tersebut terbilang minim dibandingkan dengan aliran FDI ke sektor jasa dan sektor tersier lainnya. “Pemerintah jangan sampai salah mengidentifikasi masalah. FDI kita masih tumbuh, tapi kualitasnya lah yang harus diperbaiki,” tutur Mikail.




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×