kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   -50.000   -1,70%
  • USD/IDR 16.949   -61,00   -0,36%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Pemerintah Jaga Defisit APBN 2026 di Bawah 3%, Menkeu Purbaya: Sekitar 2,89%–2,9%


Jumat, 20 Maret 2026 / 13:45 WIB
Pemerintah Jaga Defisit APBN 2026 di Bawah 3%, Menkeu Purbaya: Sekitar 2,89%–2,9%
ILUSTRASI. Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (Dendi Siswanto/Menkeu Purbaya)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 diperkirakan melebar.

Toh begitu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, defisit APBN 2026 akan tetap terkendali di kisaran 2,89% hingga 2,9% terhadap produk domestik bruto (PDB) meskipun tekanan global meningkat akibat gejolak harga minyak.

Purbaya menegaskan, ruang penyesuaian defisit memang tersedia dari posisi awal sekitar 2,67%. Namun pemerintah akan menjaga agar tidak melampaui ambang batas 3% yang diatur dalam undang-undang.

“Di sekitar 2,89%–2,9%. Jadi dijaga di situ,” ujar Purbaya kepada awak media di komplek Istana Kepresidenan, Kamis (19/3/2026).

Baca Juga: Purbaya Tetapkan DBH Cukai Tembakau 2026 Rp 3,28 Triliun, Jawa Timur Terbesar

Menurut Purbaya, menjaga defisit di bawah 3% penting untuk memastikan disiplin fiskal tetap terjaga. Jika defisit melewati batas tersebut, pemerintah harus berhadapan dengan mekanisme tambahan, termasuk persetujuan DPR.

“Kalau sampai 3%, nanti saya repot lagi, tahu-tahu lewat, saya mesti ke DPR, saya melanggar undang-undang. Jadi kita atur seoptimal mungkin,” jelasnya.

Selain menjaga batas defisit, pemerintah juga mempertimbangkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas anggaran. Purbaya menekankan, APBN harus tetap mampu menjadi bantalan (shock absorber) ketika terjadi gejolak, tanpa mengganggu momentum pertumbuhan.

“Ekonomi harus tetap jalan, anggaran bisa berjalan, shock bisa di-absorb oleh pemerintah, dan masyarakat tetap menikmati pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.

Purbaya juga menepis kekhawatiran lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$ 200 per barel. Ia menilai skenario tersebut tidak realistis karena akan memicu resesi global.

“Kalau sampai US$ 200 dolar, global recession akan terjadi. Kalau terjadi, demand turun, harga minyak justru bisa jatuh tajam,” ungkapnya.

Ia mencontohkan pengalaman periode 2013–2014, ketika harga minyak sempat diprediksi melonjak tinggi, namun akhirnya justru terkoreksi signifikan. Menurutnya, produsen minyak juga memiliki kepentingan menjaga harga agar tetap stabil dan tidak merusak permintaan.

Baca Juga: Demi Hemat BBM, Pemerintah Akan Terapkan WFH bagi ASN dan Pekerja Swasta

Pemerintah pun memastikan akan terus menyesuaikan kebijakan fiskal sesuai dinamika global. Meski demikian, Purbaya menegaskan cadangan fiskal yang dimiliki saat ini cukup kuat untuk menghadapi berbagai risiko.

“Kita punya hitungan, kita punya cadangan (SAL) cukup banyak. Jadi enggak usah takut,” imbuh Purbaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×