kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.130   16,00   0,09%
  • IDX 7.500   41,69   0,56%
  • KOMPAS100 1.037   8,08   0,79%
  • LQ45 746   -0,12   -0,02%
  • ISSI 272   3,24   1,21%
  • IDX30 399   -1,25   -0,31%
  • IDXHIDIV20 486   -4,46   -0,91%
  • IDX80 116   0,59   0,51%
  • IDXV30 135   0,10   0,08%
  • IDXQ30 128   -1,20   -0,93%

Pemerintah Harus Berani Mengurangi Volume Ekspor Tangguh


Jumat, 05 September 2008 / 20:34 WIB


Reporter: Andrie Indradi | Editor: Test Test

Negosiasi harga gas Tangguh dengan China memang tidak mudah. Buktinya, pada 2006 lalu, saat pemerintah juga menegosiasi ulang harga gas dari semula US$ 2,4 per MMBTU, Pemerintah China hanya mau menaikkan sedikit, yakni menjadi US$ 3,4 per MMBTU.

Dari pengalaman ini, tak heran banyak yang skeptis ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla akan menegosiasi ulang harga jual gas Tangguh ke China. Mereka yang skeptis itu menyatakan, Indonesia tidak akan mencapai harga yang memuaskan. Berdasarkan harga pasar internasional dan perbandingan harga jual LNG Bontang ke Jepang, harga yang wajar untuk LNG saat ini di kisaran antara US$ 15 hingga US$ 20 per MMBTU.

Nah, ada usulan menarik dari BP Migas bila Indonesia gagal menegosiasi ulang harga gas Tangguh tersebut. "Kurangi saja volumenya," kata anggota Komite BPH Migas Triyono. Triyono mengusulkan volumenya berkurang dari 2,5 juta ton per tahun menjadi 1,5 juta per tahun. "Sejuta ton itu untuk memasok gas di dalam negeri yang sekarang lagi krisis," kata Triyono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×