kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   10.000   0,36%
  • USD/IDR 17.744   36,00   0,20%
  • IDX 6.502   -24,02   -0,37%
  • KOMPAS100 848   -1,25   -0,15%
  • LQ45 642   -2,64   -0,41%
  • ISSI 228   -0,01   0,00%
  • IDX30 359   -1,39   -0,39%
  • IDXHIDIV20 437   -0,21   -0,05%
  • IDX80 97   -0,26   -0,27%
  • IDXV30 121   0,35   0,29%
  • IDXQ30 114   -0,45   -0,40%

Pemerintah Harus Berani Mengurangi Volume Ekspor Tangguh


Jumat, 05 September 2008 / 20:34 WIB


Reporter: | Editor: Test Test

Negosiasi harga gas Tangguh dengan China memang tidak mudah. Buktinya, pada 2006 lalu, saat pemerintah juga menegosiasi ulang harga gas dari semula US$ 2,4 per MMBTU, Pemerintah China hanya mau menaikkan sedikit, yakni menjadi US$ 3,4 per MMBTU.

Dari pengalaman ini, tak heran banyak yang skeptis ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla akan menegosiasi ulang harga jual gas Tangguh ke China. Mereka yang skeptis itu menyatakan, Indonesia tidak akan mencapai harga yang memuaskan. Berdasarkan harga pasar internasional dan perbandingan harga jual LNG Bontang ke Jepang, harga yang wajar untuk LNG saat ini di kisaran antara US$ 15 hingga US$ 20 per MMBTU.

Nah, ada usulan menarik dari BP Migas bila Indonesia gagal menegosiasi ulang harga gas Tangguh tersebut. "Kurangi saja volumenya," kata anggota Komite BPH Migas Triyono. Triyono mengusulkan volumenya berkurang dari 2,5 juta ton per tahun menjadi 1,5 juta per tahun. "Sejuta ton itu untuk memasok gas di dalam negeri yang sekarang lagi krisis," kata Triyono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×