kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.830.000   -50.000   -1,74%
  • USD/IDR 17.198   35,00   0,20%
  • IDX 7.544   -15,02   -0,20%
  • KOMPAS100 1.034   -5,43   -0,52%
  • LQ45 738   -5,48   -0,74%
  • ISSI 273   -0,42   -0,15%
  • IDX30 402   1,68   0,42%
  • IDXHIDIV20 493   5,89   1,21%
  • IDX80 116   -0,69   -0,59%
  • IDXV30 141   1,87   1,34%
  • IDXQ30 129   0,88   0,68%

Pemerintah Bidik Ekspor 1 Juta Ton Pupuk, Sasar India, Brasil, Thailand, & Filipina


Rabu, 22 April 2026 / 10:49 WIB
Pemerintah Bidik Ekspor 1 Juta Ton Pupuk, Sasar India, Brasil, Thailand, & Filipina
ILUSTRASI. Petrokimia Gresik Akan Ekspor 203.000 Ton Pupuk ke India dan Meksiko (DOK/ Petrokimia Gresik)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Indonesia mulai menggenjot peluang ekspor pupuk di tengah ketidakpastian pasokan global. Sejumlah negara seperti India, Brasil, Thailand, dan Filipina kini masuk dalam radar tujuan ekspor.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan, pemerintah tengah menjajaki pengiriman hingga 1 juta ton pupuk ke empat negara tersebut. 

"Komitmen ekspor ini di atas 250.000 ton yang sudah lebih dulu dikirim ke Australia, ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (22/4/2026).

Langkah ekspansi ini didorong oleh kondisi produksi dalam negeri yang relatif surplus. 

Baca Juga: Pupuk Indonesia Siap Ekspor Urea, Pasokan Dalam Negeri Tetap Prioritas

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi pupuk urea nasional mencapai 7,8 juta ton, sementara kebutuhan domestik berada di kisaran 6,3 juta ton. Artinya, terdapat ruang pasok yang bisa dimanfaatkan untuk pasar ekspor.

Di sisi lain, peluang ini muncul saat pasar global tengah menghadapi tekanan pasokan. 

Gangguan distribusi pupuk, salah satunya dipicu konflik geopolitik yang berdampak pada rantai energi, membuat banyak negara berkembang kekurangan pasokan.

Kepala badan perdagangan PBB sebelumnya mengingatkan bahwa krisis pupuk akibat konflik, termasuk yang berkaitan dengan Iran, menjadi persoalan mendesak bagi negara berkembang. 

"Kekurangan pupuk adalah masalah mendesak, sementara keuntungan dari lonjakan harga energi kemungkinan hanya sementara," ujarnya.

Baca Juga: Pupuk Indonesia Siap Salurkan 9,8 Juta Ton Pupuk Subsidi Mulai 1 Januari 2026

Dengan situasi tersebut, Indonesia mencoba mengambil posisi sebagai pemasok alternatif di pasar global. 

Selain memperluas pasar ekspor, langkah ini juga berpotensi mengoptimalkan kelebihan produksi dalam negeri di tengah dinamika harga energi dan komoditas dunia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×