CLOSE [X]
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Pemerintah akan kuncurkan Rp 17,7 triliun PMN untuk BUMN tahun depan


Jumat, 23 Agustus 2019 / 19:27 WIB

Pemerintah akan kuncurkan Rp 17,7 triliun PMN untuk BUMN tahun depan
ILUSTRASI. PLN memiliki pasukan untuk merawat jaringan


KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pemerintah masih akan meneruskan penyertaan modal negara (PMN) kepada sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di tahun 2020. Ini sebagai salah satu upaya mendukung percepatan pembangunan infrastruktur yang meliputi sarana transportasi, permukiman, air bersih dan sanitasi, serta infrastruktur ketahanan energi.

Berdasarkan Nota Keuangan, pemerintah mengalokasikan PMN sebesar Rp 17,7 triliun yang ditujukan untuk delapan BUMN pada tahun depan. 

Alokasi PMN sebesar Rp 5 triliun ditujukan untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Bantuan pendanaan ini dalam rangka program penambahan kapasitas daya listrik menjadi 35.000 MW untuk memenuhi kenaikan permintaan listrik rata-rata 6,9% setiap tahun dan target rasio elektrifikasi 100% di tahun depan. 

Baca Juga: PNM sudah salurkan pembiayaan Rp 11,3 triliun sampai bulan Juli 2019

Pemerintah juga mengucurkan tambahan modal untuk PT Sarana Multigriya Finansial sebesar Rp 2,5 triliun. Output yang diharapkan ialah pembiayaan 102.500 unit rumah bagi MBR pada program KPR FLPP melalui porsi 25% perbankan. Serta membiayai 17.000 unit rumah untuk program KPR SMF pasca bencana dan program KPR SMF bagi ASN, TNI, dan Polri. 

Sisanya, pemerintah menambahkan modal pada BUMN lainnya, yaitu PT Hutama Karya (HK) sebesar Rp 3,5 triliun atau lebih kecil dari outlook realisasi PMN tahun ini yaitu Rp 10,5 triliun. 

PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia sebesar Rp 300 miliar, PT Geo Dipa Energi sebesar Rp 700 miliar, PT PNM sebesar Rp 1 triliun, dan PT Pengembangan Armada Niaga Nasional (PANN) sebesar Rp 3,8 triliun. 

Yang terbaru, pemerintah mengalokasikan PMN sebesar Rp 1 triliun dalam rangka penguatan neraca transaksi berjalan yang selama ini telah menjadi permasalahan struktural Indonesia dan terus mengalami defisit yang meningkat.

“Permasalahan struktural ini terutama dipengaruhi faktor fundamental bahwa kinerja impor nasional masih lebih tinggi dibandingkan kinerja ekspor nasional baik pada sektor barang maupun jasa,” terang pemerintah.

Baca Juga: Sri Mulyani ceritakan perjalanan defisit BPJS Kesehatan di komisi XI DPR


Reporter: Grace Olivia
Editor: Noverius Laoli
Video Pilihan

Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0004 || diagnostic_api_kanan = 0.0006 || diagnostic_web = 0.1723

Close [X]
×