kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Pelayanan KTP elektronik belum optimal


Minggu, 14 Agustus 2011 / 17:49 WIB
ILUSTRASI. Jusuf Kalla: Wabah corona di Indonesia baru akan reda tahun 2022


Reporter: Riendy Astria | Editor: Edy Can


JAKARTA. Program Kartu Tanda Penduduk elektronik belum berjalan optimal. Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Reydonnyzar Moenek mengatakan, ada sejumlah hambatan teknis dalam pelaksanaan KTP elektronik itu.

Reydonnyzar mencontohkan pelaksanaan KTP elektronik di Jakarta. Menurutnya, masalah yang sering terjadi adalah jadwal pelayanan yang tidak sesuai waktunya. "Jadi misalnya ketika ada pemanggilan, namun waktu surat pemanggilan disampaikan, orangnya berhalangan, sehingga jadwalnya tidak bertepatan," katanya akhir pekan lalu.

Masalah lainnya ada perangkat yang belum siap. Reydonnyzar mengatakan, banyaknya perangkat yang belum terpasang atau tersambungkan lantaran petugasnya masih belum siap menggunakannya. "Ada kemungkinan karena teknologinya yang masih baru, maka sulit digunakan," tegasnya.

Padahal, petugas tersebut sudah diberikan pengarahan dan pelatihan sebelumnya. Kepala Seksi Kecamatan Menteng Andriyanti mengatakan, petugas diberi pelatihan selama dua hari.

Saat ini ada lima kelurahan, yakni Kelurahan Menteng, Kelurahan Mampang Prapatan, Kelurahan Cikoko, Kelurahan Tomang, dan Kelurahan Rawa Badak Selatan yang sudah melakukan pelayanan KTP elektronik.

Berdasarkan pengamatan KONTAN di Kelurahan Menteng, proses pelayanan tidak berjalan dengan lancar. Ada seorang nenek yang mendapatkan pelayanan hampi menghabiskan waktu 15-20 menit lantaran ketika melakukan sidik jari, itu tidak terdeteksi sehingga dilakukan berulang-ulang. Padahal seharusnya, satu orang menghabiskan waktu paling banyak itu sekitar 4 menit.

Selain itu, saat itu juga koneksi bisa tiba-tiba hilang sehingga harus diulang. Hingga akhirnya, pelayanan pembuatan KTP Elektronik untuk nenek tersebut ditunda dan akan di ulang nantinya. Bisa dikatakan, ini tentu akan menghabiskan waktu. Jika ini terjadi pada banyak orang, tentu penerapan KTP Elektronik bisa jadi molor.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengatakan kalau keberhasilan KTP Elektronik juga tergantung pada daerah. “Semua tergantung pada daerah,” kata Gamawan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×