kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.695.000   18.000   0,67%
  • USD/IDR 17.835   10,00   0,06%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Patrialis: Hentikan penggunaan jasa penagih utang


Rabu, 06 April 2011 / 15:21 WIB
ILUSTRASI. Warga menghindari ombak yang menerjang pelataran Gedung Kebudayaan Sumatra Barat, di Padang, Kamis (28/5/2020).


Reporter: Yudho Winarto | Editor: Edy Can

JAKARTA. Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar mendesak industri perbankan menghentikan penggunaan jasa penagih utang (debt collector). Sebab, dia menilai, penggunaan jasa penagih utang yang menyebabkan kematian orang tersebut cacat hukum.

Patrialis beralasan, Indonesia adalah negara hukum. Menurutnya, ada hukum yang mengatur soal sengketa utang piutang. "Jadi tidak boleh main hakim sendiri, harus ada satu proses," jelasnya, Rabu (6/4).

Menurutnya, ada dua model dalam pinjam meminjam. Pertama, ada yang disebut fiducia. Artinya suatu pengakuan yang diberikan oleh negara apabila terjadi kemacetan dalam leasing bisa dilakukan penyitaan, tapi bersama- sama dengan aparatur negara yang diberikan legalitas.

Kemudian, kedua, kalau di dalam benda tidak bergerak itu namanya akta hipotek. Menurutnya, tanpa proses persidangan di pengadilan, dapat melakukan eksekusi. "Ini bisa kita jadikan satu model untuk ke depan," katanya.

Polemik penggunaan jasa penagih utang ini mencuat setelah kematian Sekretaris Jenderal Partai Pemersatu Bangsa (PPB) Irzen Octa. Nasabah Citibank tersebut diduga tewas akibat dianiaya penagih utang. Namun, Citibank telah membantah dugaan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×