kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Pasar sambut positif Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan lagi


Selasa, 29 Oktober 2019 / 12:37 WIB
Pasar sambut positif Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan lagi
ILUSTRASI. Sri Mulyani Indrawati meninggalkan Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa (22/10/2019).

Sumber: Kompas.com | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Joko Widodo telah mengumumkan susunan Kabinet Indonesia Maju yang akan membantunya selama pemerintahan periode 2019-2024. Sejumlah nama-nama baru muncul memberikan kejutan.

Namun, beberapa posisi masih tetap diduduki oleh wajah lama, salah satunya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Kepala Ekonom DBS Indonesia Masyita Crystallin berdasarkan analisisnya mengatakan, penunjukan kembali Sri Mulyani sangat positif di tengah kondisi global yang masih bergejolak.

Baca Juga: Simak tanggapan Kemkeu soal usulan tax amnesty jilid II

"Tantangan global saat ini sangat berat, pertumbuhan ekonomi dunia melemah, belum lagi diwarnai perang dagang dan beberapa isu geopolitik. Penetapan Ibu Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan mendapat reaksi positif dari pasar," kata Masyita dalam siaran pers, Selasa (29/10).

Sedangkan mengenai kabinet baru secara keseluruhan, Masyita menilai cukup netral terhadap pertumbuhan ekonomi. "Kabinet ini memiliki kombinasi antara partai dan profesional yang cukup baik," ujar dia.

Untuk Kementerian Keuangan, Masyita memprediksi Kemenkeu akan melanjutkan manajemen anggaran yang baik dan melanjutkan reformasi fiskal. Menurutnya, manajemen anggaran yang baik sangat penting dalam kondisi yang volatile, karena anggaran pemerintah diperlukan sebagai stimulus di saat ekonomi sedang melemah.

Baca Juga: DJBC: Revisi PMK Ekspor Kembali Barang Impor pertimbangkan aspek lingkungan

"Secara bersamaan menjaga defisit agar tetap berada di koridor yang aman. Kebijakan fiskal yang kontra siklus berarti pada saat perekonomian sedang lemah, stimulus fiskal dapat digunakan untuk mengangkat pertumbuhan ekonomi," ujar Masyita.

Selain itu, Masyita juga menilai reformasi fiskal akan tetap menjadi prioritas. Hal tersebut memang sangat diperlukan untuk Indonesia karena rasio pajak yang masih kurang dari 12 persen di bawah rata-rata negara peers.

"Untuk tumbuh lebih tinggi, Indonesia membutuhkan rasio pajak setidaknya 15 persen," pungkas dia. (Fika Nurul Ulya)

Baca Juga: Pengusaha sarankan mobil dinas menteri diganti mobil listrik

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Riset: Pasar Respon Positif Sri Mulyani Jadi Menkeu Lagi", 




TERBARU

Close [X]
×