kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.978   18,00   0,11%
  • IDX 7.321   -264,62   -3,49%
  • KOMPAS100 1.020   -39,96   -3,77%
  • LQ45 749   -27,08   -3,49%
  • ISSI 256   -10,71   -4,01%
  • IDX30 396   -14,53   -3,54%
  • IDXHIDIV20 491   -15,97   -3,15%
  • IDX80 115   -4,31   -3,63%
  • IDXV30 133   -4,52   -3,29%
  • IDXQ30 128   -4,76   -3,59%

Pasar Keuangan di Awal Maret: Fundamental Makroekonomi Disebut Masih Konstruktif


Senin, 09 Maret 2026 / 10:55 WIB
Pasar Keuangan di Awal Maret: Fundamental Makroekonomi Disebut Masih Konstruktif


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kondisi makroekonomi Indonesia pada pekan pertama Maret 2026 disebut masih konstruktif. Hal ini didukung konsumsi dan aktivitas manufaktur yang membaik. 

Fithra Faisal, Senior Macro Strategist Samuel Sekuritas Indonesia mengatakan, momentum pertumbuhan domestik tetap didukung oleh konsumsi yang resilien, aktivitas manufaktur yang membaik, serta belanja musiman menjelang Lebaran.

Pada saat yang sama, aktivitas investasi mulai menunjukkan tanda pemulihan bertahap seiring meningkatnya impor barang modal dan input antara. 

“Indonesia memasuki awal Maret 2026 dengan fundamental makroekonomi yang secara umum masih konstruktif, namun semakin terekspos terhadap volatilitas eksternal,” ujar Fithra dalam risetnya Senin (9/3/2026). 

Baca Juga: Pangkas Koreksi, Rupiah Kembali ke Bawah Rp 17.000 Per Dolar AS

Namun, Fithra melihat pasar keuangan kini semakin sensitif terhadap perkembangan global dibandingkan kinerja makro domestik. Secara khusus, interaksi antara yield global, ketegangan geopolitik, serta narasi terkait peringkat kredit sovereign telah menjadi pendorong utama sentimen pasar. 

Penurunan cadangan devisa Indonesia menyoroti semakin defensifnya pendekatan pengelolaan kebijakan. Bank Indonesia terus memanfaatkan bantalan eksternal untuk meredam volatilitas nilai tukar dan mencegah instabilitas mata uang menular ke inflasi maupun pasar keuangan. 

Dalam konteks ini, narasi makro Indonesia secara bertahap bergeser dari fase pemulihan siklikal menuju fase pengelolaan kredibilitas kebijakan, di mana disiplin fiskal, reformasi institusional, dan konsistensi kebijakan menjadi semakin penting untuk menjaga kepercayaan investor. 

Fithra menyoroti salah satu perkembangan paling signifikan pekan lalu adalah eskalasi konflik Iran–Israel–US, yang memperkenalkan kanal risiko geopolitik baru ke pasar global.

Konflik dimulai dengan serangan bersama AS–Israel terhadap infrastruktur militer Iran dalam operasi Operation Epic Fury, diikuti serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk serta ancaman penutupan Selat Hormuz yang membawa sekitar 20% pasokan minyak global. Kanal transmisi makroekonomi utama konflik ini terjadi melalui harga minyak, sentimen risiko global, dan arus modal. 

Lebih lanjut Fithra memproyeksikan fundamental makro Indonesia secara struktural tetap resilien, didukung oleh permintaan domestik yang kuat, bantalan eksternal yang solid, serta diferensial yield yang relatif menarik.

Namun, volatilitas pasar dalam jangka pendek kemungkinan tetap tinggi seiring investor menghadapi kombinasi ketidakpastian yield global, risiko geopolitik, dan narasi peringkat kredit sovereign

“Adapun tiga variabel utama yang akan menentukan arah pasar Indonesia dalam beberapa bulan mendatang adalah stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, arah global yields, dan sinyal kredibilitas kebijakan,” jelas Fithra. 

Baca Juga: Pekerja Dirumahkan Jelang Lebaran? Ini Modus Baru Hindari Bayar THR.

Seperti diketahui, cadangan devisa Indonesia turun menjadi US$ 151,9 miliar pada Februari 2026, sedikit di bawah proyeksi Samuel Sekuritas Indonesia sebesar US$ 153 miliar.

Penurunan ini mencerminkan pembayaran utang luar negeri pemerintah yang terjadwal serta intervensi berkelanjutan BI di pasar foreign exchange (FX). Yang penting, penurunan ini disebut merupakan penggunaan bantalan secara taktis, bukan mencerminkan melemahnya fundamental eksternal. 

Adapun PMI Manufaktur Indonesia naik menjadi 53,8 pada Februari 2026, menandai ekspansi tercepat sejak Maret 2024 serta bulan ketujuh berturut-turut pertumbuhan. Ekspansi ini mencerminkan permintaan domestik yang lebih kuat, peningkatan pesanan baru, serta kondisi ketenagakerjaan yang membaik di sektor manufaktur.

Namun, gangguan rantai pasok akibat banjir dan keterlambatan logistik masih memperpanjang waktu pengiriman dan meningkatkan biaya input. Secara keseluruhan, data PMI menunjukkan momentum sektor riil Indonesia tetap resilien meskipun volatilitas eksternal meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×