Reporter: Inggit Yulis Tarigan | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik terus meningkat. Hingga 26 Maret 2025, total capital outflow mencapai Rp 33 triliun secara year-to-date (YTD).
Angka ini mendekati outflow saat pandemi COVID-19 pada 2020 yang mencapai Rp 43 triliun.
VP Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi menyebut derasnya outflow ini dipicu oleh ketidakpastian global, kebijakan tarif AS, serta peningkatan risk premium, yang tercermin dari depresiasi rupiah dan kenaikan Credit Default Swap (CDS).
Selain itu, suku bunga yang masih tinggi hingga kuartal II 2025 serta defisit APBN dan transaksi berjalan turut menekan pasar.
“Pelemahan IHSG saat ini lebih disebabkan oleh faktor domestik, seperti depresiasi rupiah dan meningkatnya risiko fiskal, yang mendorong aksi jual asing,” ujar Audi pada Kontan, (26/3).
Baca Juga: Aliran Modal Asing Hengkang Rp 9,57 Triliun di Pekan Ketiga Januari 2025
Untuk mengatasi tekanan ini, menurutnya, pemerintah perlu menjaga stabilitas ekonomi, termasuk menstabilkan rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Namun, inflow asing masih berpotensi masuk kembali jika ada pelonggaran kebijakan moneter dan kinerja emiten tetap terjaga,” tambahnya.
Sementara itu, Investment Analyst Edvisor Provina Visindo, Indy Naila menilai derasnya outflow asing saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor domestik.
"Sentimen utama berasal dari masalah internal, mulai dari risiko politik, defisit APBN, hingga ketidakjelasan program pemerintahan baru. Ketidakpastian ini membuat investor asing memilih menarik dananya dari pasar," terang Indy pada Kontan, (26/3).
Baca Juga: Menakar Daya Tarik Pasar Saham Saat IHSG Terjun & Tertekan Capital Outflow
Ia menambahkan, banyak emiten saat ini berada di level undervalue dan banyak investor asing memilih keluar karena menganggap pasar saham China yang dinilai lebih menarik dibandingkan Indonesia.
"Tren keluarnya asing cukup besar, ditambah dengan pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa. Ini semakin menambah tekanan bagi pasar saham domestik," ujar Indy.
Untuk meredam tekanan ini, ia menilai pemerintah perlu mengambil langkah konkret dalam menjaga stabilitas ekonomi.
"Pemerintah harus memperkuat kebijakan ekonomi dan mendukung resiliensi sektor-sektor utama agar dapat menarik kembali minat investor," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News