Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
Moneter Tak Cukup, Pemerintah Harus Turunkan Sumber Tekanan Rupiah
Josua menekankan, kebijakan moneter saja tidak cukup untuk menjaga stabilitas rupiah. Pemerintah juga perlu ikut menurunkan sumber tekanan terhadap rupiah melalui kebijakan fiskal, energi, dan penguatan kepercayaan investor.
Ia menilai langkah yang paling penting adalah menjaga kredibilitas defisit fiskal, memastikan subsidi energi dikelola dengan jelas, menekan kebutuhan impor energi, serta menjalankan kebijakan devisa hasil ekspor tanpa mengganggu likuiditas pelaku usaha.
Selain itu, reformasi pasar modal dan kepastian kebijakan investasi juga perlu dipercepat agar kepercayaan investor tetap terjaga.
Baca Juga: Rupiah Berpotensi Kian Tertekan Usai 18 Saham Dicoret dari MSCI
Menurut Josua, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sendiri telah menegaskan bahwa volatilitas global meningkat akibat konflik Timur Tengah, kenaikan harga energi, penguatan dolar AS, dan terbatasnya arus modal ke negara berkembang.
Karena itu, respons kebijakan harus dilakukan secara terkoordinasi antara fiskal, moneter, dan sektor keuangan.
Josua juga menyoroti rencana pemerintah mengaktifkan kembali Bond Stabilization Fund (BSF) yang dinilai dapat membantu menjaga stabilitas pasar SBN dan biaya utang pemerintah.
Namun yang menjadi catatan adalah, kebijakan tersebut harus dikomunikasikan secara hati-hati agar tidak dipersepsikan pasar sebagai sinyal tekanan fiskal atau pembiayaan terselubung.
“Jadi jawaban utamanya bukan hanya BI harus lebih agresif, tetapi pemerintah dan BI harus menunjukkan arah kebijakan yang konsisten. Rupiah dijaga, fiskal dipercaya, pasar SBN stabil, dan kebijakan sektor riil tidak menambah kekhawatiran investor,” jelasnya.
Josua menambahkan, apabila rupiah terus melemah dari level Rp 17.500 per dolar AS, peluang menuju Rp 18.000 memang terbuka, meski bukan menjadi skenario dasar saat ini.
Level tersebut dinilai lebih mungkin terjadi apabila tekanan global dan domestik muncul secara bersamaan, seperti konflik Timur Tengah yang memburuk, harga minyak bertahan tinggi, dolar AS terus menguat, arus modal keluar dari pasar obligasi dan saham meningkat, serta respons kebijakan dinilai kurang meyakinkan.
Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp 17.535: Tekanan Tak Hanya dari Dolar AS, Domestik Jadi Sorotan
Dalam kondisi tersebut, BI dinilai berpeluang menaikkan BI Rate hingga 5%, terutama jika pelemahan rupiah mulai memengaruhi inflasi dan kepercayaan pasar.
Namun Josua mengingatkan, kenaikan suku bunga tidak otomatis membuat rupiah langsung menguat karena tekanan saat ini juga berasal dari faktor energi, geopolitik, dan persepsi terhadap kebijakan domestik.
“Karena itu respons BI perlu dikombinasikan dengan kebijakan fiskal yang kredibel, penguatan pasokan valas, pengendalian impor energi, dan komunikasi yang konsisten agar pasar melihat pemerintah dan BI bergerak dalam satu arah,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













