CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.007,80   -0,91   -0.09%
  • EMAS995.000 -0,10%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Neraca perdagangan berpotensi cetak surplus hingga akhir tahun ini


Senin, 15 November 2021 / 20:04 WIB
Neraca perdagangan berpotensi cetak surplus hingga akhir tahun ini
ILUSTRASI. Surplus neraca dagang bulan Oktober 2021 cetak rekor tertinggi


Reporter: Bidara Pink | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus pada bulan Oktober 2021. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca perdagangan di bulan lalu mencapai US$ 5,73 miliar.

Surplus neraca dagang ini lebih tinggi dari surplus di bulan September 2021 yang sebesar US$ 4,37 miliar. Bahkan, realisasi tersebut menggeser posisi tertinggi surplus neraca perdagangan pada Agustus 2021 yang mencapai US$ 4,74 miliar.

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky melihat, tren surplus neraca perdagangan ini masih akan berlangsung hingga akhir tahun 2021.

Namun, nilai surplus neraca perdagangan barang ini tidak akan sebesar pada bulan Oktober 2021 karena sudah ada peningkatan impor.

Baca Juga: Surplus neraca perdagangan Indonesia cetak rekor US$ 5,73 miliar pada Oktober 2021

“Tak selamanya peningkatan impor itu buruk. Ini menunjukkan adanya permintaan yang meningkat, produksi juga meningkat di dalam negeri. Ini tanda baik bagi perekonomian,” ujar Riefky kepada Kontan.co.id, beberapa waktu lalu.

Sementara dari sisi ekspor, nilainya diperkirakan masih tinggi karena didorong oleh harga komoditas yang digadang masih tinggi hingga akhir tahun, serta masih tingginya permintaan dari negara-negara mitra dagang Indonesia.

Namun, penurunan surplus neraca perdagangan ini dianggap bisa memberi sentimen negatif pada pergerakan nilai tukar rupiah, meski dampaknya memang tidak signifikan.

Selama ini, memang neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus yang tinggi. Ini mendorong nilai tukar rupiah untuk menguat. Nah, kalau surplus perdagangan nanti menurun, bisa saja apresiasi nilai tukar rupiah akan ikut menurun juga.

Baca Juga: Neraca perdagangan surplus, rupiah ditutup menguat ke Rp 14.202 per dolar AS

“Belum lagi, ada tekanan dari tapering off. Jadi perlu diwaspadai. Namun, tekanannya tidak akan masif,” tegasnya.

Senada dengan Riefky, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan tren surplus masih akan bertahan hingga akhir tahun 2021. Meski, memang nilai surplus perdagangan tak sebesar bulan lalu.

Dengan kemungkinan tersebut, David memperkirakan neraca perdagangan di sepanjang tahun ini akan mencetak surplus di kisaran US$ 35 miliar, ditopang oleh kinerja ekspor di sepanjang tahun ini yang diperkirakan berada di kisaran US$ 200 miliar hingga US$ 220 miliar.

 

Selanjutnya: Saham emiten consumer goods masih tertekan, begini rekomendasi dari analis

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×