kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45697,73   -32,02   -4.39%
  • EMAS946.000 -1,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Nadiem Makarim ungkap alasan kerja sama dengan Netflix


Minggu, 19 Januari 2020 / 11:17 WIB
Nadiem Makarim ungkap alasan kerja sama dengan Netflix
ILUSTRASI. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Warta Kota/henry lopulalan

Reporter: Rahma Anjaeni | Editor: Handoyo .

Alasan lain mengapa Nadiem sangat ingin mendistribusikan film Indonesia ke kancah Internasional adalah karena jumlah penonton bioskop di Indonesia yang tidak begitu besar. Lalu, dengan menggandeng Netflix diharapkan para kreator di Indonesia dapat terus berkarya tanpa harus mengkhawatirkan biaya.

Selain itu, melalui kerja sama ini Netflix juga akan melakukan penguatan kompetensi terhadap para kreator Indonesia, khususnya bagi para penulis naskah. Nantinya, mereka akan melakukan pelatihan di Hollywood dan juga workshop dengan 100 orang penulis naskah yang terpilih.

Untuk para penulis naskah yang ingin berpartisipasi, mereka diharuskan untuk mengikuti proses seleksi terlebih dahulu. Proses seleksinya sendiri akan dilakukan langsung oleh Kemdikbud dan Netflix dengan mengacu pada kriteria yang telah mereka sepakati. Untuk detailnya, nanti akan diumumkan oleh Kemdikbud.

"Kenapa harus script writer? Karena tulang punggung dari kualitas suatu film itu sebenarnya terletak pada penulisan script-nya. Itu yang banyak orang masih nggak sadar," tegas Nadiem.

Baca Juga: Empat layanan pajak tidak bisa diakses akhir pekan ini, berikut daftarnya

Menurut Nadiem, sebuah naskah film merupakan kerangka kunci yang kemudian dapat menentukan kualitas dari film tersebut. Itulah mengapa terkadang masyarakat lebih tertarik untuk menonton konten luar negeri, karena alur dan struktur ceritanya lebih mudah dimengerti.

Jadi, perbedaan terbesar antara dunia perfilman Indonesia dan luar negeri terletak pada penulisan naskah ceritanya. Bukan karena kualitas direksi ataupun kualitas sinematografinya.

"Nah inilah yang harus kita ubah, sehingga kualitas film kita itu tidak hanya bisa ditonton dan dinikmati oleh millenials di Indonesia, tetapi juga dimainkan di berbagai negara. Harus jadi beken dulu di luar baru besar di dalam," katanya.




TERBARU

Close [X]
×