Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PepsiCo dan the National Geographic Society baru saja mengumumkan lima pendanaan baru pada riset pertanian untuk mendukung percepatan dalam praktik pertanian agrikultur, mulai dari merevitalisasi padang rumput hingga memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk menerjemahkan temuan organisme dalam tanah (genomics) menjadi panduan pertanian yang mudah digunakan.
Riset ini akan menargetkan tanaman pangan penting di pusat-pusat produksi yang terdampak tekanan iklim di seluruh dunia. Para peneliti telah dipilih dari kelompok peneliti bertalenta tinggi dengan proposal dari 140 negara. Mereka tergabung dalam komunitas National Geographic Explorers, yakni ilmuwan, konservasionis, pendidik, dan story teller yang karyanya telah membantu menerangi dan melindungi keajaiban dunia kita.
Salah satu inovasi penting dari Indonesia, proyek LIFE: Inovasi tanah untuk pangan dan pemberdayaan, bertujuan untuk mentransformasikan pertanian melalui sistem tumpang sari jagung dan sacha inchi, biji kacang bintang yang saat diolah dapat menjadi “superfood” kaya nutrisi dengan tingkat Omega 3, 6 dan 9 yang tinggi.
Baca Juga: Prabowo Tinjau Hilirisasi dan Teknologi Pertanian Modern di Karawang
Pada lahan pertanian yang terdegradasi, Peneliti Indonesia Greeny S. Dewayanti telah mengembangkan sebuah pendekatan berbasis teknologi dan pengetahuan yang mengombinasikan sistem tumpang sari sacha inchi dengan analisis DNA tanah dan aplikasi berbasis AI, guna mengembalikan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan ketahanan pangan dan taraf hidup para petani.
“Pendekatan yang tengah diuji ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses ini dapat menjawab isu malnutrisi sekaligus mengembalikan kualitas tanah yang terdegradasi,” ujarnya, Jumat (10/4).
Tanaman ragam panen (multi crops) yang diproduksi ini diprediksi dapat memenuhi kebutuhan 80% keluarga di kawasan Labuan Bajo.
Inovasi ini menjembatani pengetahuan laboratorium dengan praktik nyata pertanian. Sampel tanah yang telah dikumpulkan kemudian melalui proses “Metabarcoding DNA” yang menganalisis mikroba tanah dengan kolaborasi bersama ilmuwan di laboratorium, GSI Lab, dan Genomics Hub untuk dapat lebih memahami kesehatan lahan.
Temuan-temuan ini kemudian digunakan untuk mengembangkan aplikasi berbasis AI untuk menganalisa kualitas tanah berdasarkan mikro organisme yang terdeteksi. Dengan pengembangan yang berkelanjutan, aplikasi dapat menyediakan panduan sederhana bagi petani, seperti: “tambahkan kompos untuk meningkatkan bakteria pengikat nitrogen” atau “Lahan telah siap untuk ditanami.”
Untuk pertama kalinya, para petani dapat mengerti apa yang terjadi di bawah permukaan; mikroba mana yang menguntungkan, yang membahayakan, dan tindakan apa yang diperlukan, menjadikan pengetahuan akan tanah dapat diketahui semudah membaca ramalan cuaca.
Transformasi ini dipimpin oleh perempuan. Lewat lima kelompok dan 50 pionir perempuan yang mengelola koperasi seraya mempelajari proses pengolahan Sacha Inchi menjadi produk bernilai tambah tinggi, seperti minyak.
Dengan mengintegrasikan kearifan lokal, pengetahuan modern, dan teknologi digital, proyek ini menawarkan model yang bisa merestorasi kembali lahan yang terdegradasi, memberikan akses ke makanan bernutrisi dan pendapatan stabil bagi keluarga, dan memberdayakan perempuan untuk menggerakan inovasi pertanian di wilayah – wilayah yang paling berisiko di Indonesia.
Pertanian regeneratif
Riset didanai sebagai bagian dari Food for Tomorrow, sebuah kolaborasi antara National Geographic Society dengan PepsiCo yang bertujuan untuk memanfaatkan kekuatan pengetahuan, komunikasi, dan edukasi untuk menginspirasi perubahan positif dalam sistem pangan global, dengan berfokus pada pertanian regeneratif.
Diluncurkan pada tahun 2025, proyek percontohan ini mendukung kelompok perdana beranggotakan 10 eksplorer yang mengeksplorasi masa depan pangan. Upaya mereka mencakup penelitian ilmiah di lahan pertanian, visual yang menakjubkan, dan kisah-kisah inspiratif dari para petani regeneratif yang memimpin perubahan di komunitas mereka. Alat visualisasi data interaktif juga akan dirilis akhir tahun ini.
“Selama lebih dari satu abad, National Geographic Society telah mendanai sains inovatif untuk membantu kita memahami dunia dengan lebih baik. Pertanian regeneratif adalah bidang fokus baru yang menarik bagi kami,” kata Ian Miller, chief science and innovation officer the National Geographic Society.
Menurutnya, pekerjaan ini sangat terkait dengan banyak isu jangka panjang yang ditangani seperti melindungi ekosistem air tawar dan pesisir, memulihkan lanskap untuk mendukung keanekaragaman hayati, mengurangi jejak karbon, mengamankan cadangan karbon yang tidak dapat dipulihkan; dan banyak lagi.
PepsiCo sebagai Perusahaan makanan dan minuman, telah berupaya untuk meningkatkan pertanian regeneratif secara global dan baru-baru ini memperluas target globalnya untuk mendorong penerapan praktik regeneratif, restoratif, atau protektif di lahan seluas 10 juta hektar pada tahun 2030.
“Sistem pangan global berada di bawah tekanan yang kian besar akibat perubahan iklim dan cuaca ekstrem, dan untuk menghadapi momen ini membutuhkan dukungan dari orang-orang yang berada di jantung sistem tersebut, yakni para petani,” tutur Jim Andrew, executive vice president dan chief sustainability officer PepsiCo.
Ia bilang petani hanya memiliki satu kesempatan setiap musim untuk membuat tanaman mereka berhasil. Itulah mengapa praktik yang kuat dan didukung ilmu pengetahuan begitu penting. Dengan terus menunjukkan apa yang berhasil, pihaknya dapat memberi keyakinan kepada petani bahwa pertanian regeneratif tidak hanya membantu membangun sistem pangan yang lebih tangguh tetapi juga memperkuat taraf hidup.
“Bagi banyak petani, kesehatan tanah tidak dapat terlihat. Tujuan kami adalah membuat sains mudah diakses sehingga petani dapat memahami apa yang terjadi di dalam tanah dan mengambil tindakan yang meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan,” tambah Greeny yang juga Penjelajah National Geographic, penggagas proyek LIFE, dan Chief Partnership Officer di BenihBaik.
Greeny menyatakan, pertanian regeneratif bukan hanya tentang memulihkan lahan, tapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Dengan menggabungkan teknologi, sains, dan kepemimpinan lokal, kami berharap dapat membangun masa depan di mana manusia dan alam dapat berkembang bersama.
Selama dua tahun ke depan, para penjelajah ini akan melakukan penelitian secara nyata di lapangan dan bertujuan untuk menemukan solusi yang bisa membantu meningkatkan skala praktik pertanian regeneratif yang disesuaikan. Sistem tanaman yang ditargetkan meliputi gandum, jagung, kentang, kedelai, dan kopi.
Adapun, para penjelajah sains National Geographic lainnya yang menerima pendanaan melalui Food for Tomorrow adalah:
• Dr. Ahan Dalal: Di Spanyol yang dilanda krisis iklim, Dalal akan bermitra dengan petani gandum dan jagung untuk menguji praktik pertanian regeneratif yang berakar lokal seperti biochar, tanaman penutup tanah, dan mikroba bermanfaat dalam skenario penyiraman normal dan kekeringan, mengembangkan cetak biru untuk ketahanan yang dapat menyebar di seluruh Mediterania.
• Dr. Hewan Degu: Di tempat kelahiran kopi, pekerjaan Degu bertujuan untuk melindungi masa depannya, membangun basis bukti mikroba untuk sistem tumpang sari kopi dan kentang regeneratif di Ethiopia sekaligus belajar bersama petani untuk memandu penerapan dan penyerapan di lahan pertanian.
• Omar de Kok-Mercado: Di lahan pertanian jagung, kedelai, dan gandum di Wisconsin barat daya, de Kok-Mercado membangun kembali koridor keanekaragaman hayati melalui 'jaringan liar' yang terhubung dari penanaman padang rumput asli di lahan pertanian marginal. Proyek ini memadukan data ekologis dengan seni dan penceritaan untuk mendorong regenerasi skala lanskap berbasis bukti.
• Dr. Jamie Spychalla: Di Wisconsin, pusat penting produksi kentang di AS dengan penelitian Spychalla di lahan pertanian, akan mempelajari manfaat dari integrasi alfalfa pengikat nitrogen sebagai tanaman penutup yang dapat dipanen dan ditanam secara bergilir untuk mengurangi tekanan kelembaban akibat perubahan iklim, meregenerasi tanah, dan meningkatkan hasil panen - dengan melibatkan komunitas petani di sepanjang prosesnya.
Berkeliling dunia
Para ilmuwan bergabung dengan lima Penjelajah Food for Tomorrow lainnya yang berfokus pada proses “storytelling”, yang sejak pertengahan tahun 2025 telah berkeliling dunia (12 negara dan terus bertambah) untuk merekam tantangan, keberhasilan, dan perspektif dari orang – orang di lapangan pertanian besar maupun kecil di berbagai tahap transisi mereka menuju pertanian regeneratif.
Hingga saat ini, para peneliti ini telah melakukan kerja lapangan di pertanian 13 sistem tanaman yang beragam (termasuk gandum, padi, stroberi, selada, dan kopi), serta peternakan. Kemudian pada tahun 2026, mereka akan mulai meluncurkan pameran foto multimedia, forum keterlibatan komunitas, artikel jurnalistik, kampanye sosial yang menarik, video pendek dan panjang, dan banyak lagi.
Mulai dari profil petani dan peternak yang mendorong perubahan dan transisi ke pertanian regeneratif, hingga melakukan penelitian ilmiah yang ketat di pusat-pusat produksi tanaman penting yang terdampak tekanan iklim, hingga upaya penanaman pohon skala besar untuk mereklamasi lahan gurun, para Penjelajah ini tidak hanya menceritakan kisah pertanian regeneratif: mereka juga membantu membentuk masa depannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













