kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   18.000   0,66%
  • USD/IDR 17.694   -124,00   -0,70%
  • IDX 6.310   302,08   5,03%
  • KOMPAS100 841   47,38   5,97%
  • LQ45 630   32,88   5,50%
  • ISSI 216   9,69   4,70%
  • IDX30 356   17,25   5,09%
  • IDXHIDIV20 436   18,32   4,39%
  • IDX80 95   5,28   5,88%
  • IDXV30 117   3,85   3,41%
  • IDXQ30 114   4,97   4,55%

Capital Inflow Berpotensi Menguat, The Fed dan BI Jadi Penentu Utama


Senin, 15 Juni 2026 / 11:42 WIB
Capital Inflow Berpotensi Menguat, The Fed dan BI Jadi Penentu Utama
ILUSTRASI. Meredanya tensi geopolitik dan sinyal The Fed menahan suku bunga picu optimisme. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek aliran modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan Indonesia dalam waktu dekat diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh dinamika sentimen global. Di sisi lain, bauran kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga daya tarik aset domestik di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Myrdal Gunarto, menilai meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sikap dovish bank sentral Amerika Serikat (The Fed) berpotensi menjadi katalis positif bagi masuknya dana asing ke pasar keuangan Indonesia.

"Kalau kita lihat sekarang memang situasi tensi geopolitik sudah mulai mengarah ke penurunan tensi antara Amerika dengan Iran dan Israel. Kalau itu berlanjut, harga minyak juga berpotensi turun dan itu akan menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan kita," ujar Myrdal kepada Kontan, Minggu (14/6/2026).

Menurut Myrdal, apabila kondisi geopolitik terus membaik dan The Fed memutuskan menahan suku bunga acuannya dalam pertemuan bulan ini, maka arus modal asing yang masuk ke pasar saham Indonesia berpotensi meningkat signifikan.

Baca Juga: Resmi! Kemnaker Buka Pendaftaran Program Magang Di Jepang, Cek Gaji TKI Di Jepang

Ia memperkirakan nilai inflow ke pasar saham pada pekan ini dapat mencapai sekitar US$ 600 juta. Sementara itu, aliran dana asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga diproyeksikan meningkat apabila kondisi global semakin kondusif.

Selain meningkatkan capital inflow, kombinasi sentimen tersebut dinilai dapat mendorong penguatan nilai tukar rupiah. Myrdal memperkirakan mata uang Garuda berpotensi menguat menuju kisaran Rp 17.685 per dolar Amerika Serikat apabila The Fed mempertahankan suku bunga dan harga minyak Brent turun ke level US$ 80 hingga US$ 82 per barel.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa proyeksi tersebut dapat berubah apabila Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan. Menurutnya, kenaikan BI-Rate justru berpotensi memicu arus keluar modal dari pasar saham maupun instrumen investasi jangka panjang.

"Kalau BI menaikkan suku bunga, justru bukannya inflow tetapi bisa terjadi outflow. Kalau pun ada dana yang masuk, kemungkinan hanya ke instrumen obligasi dengan tenor pendek," katanya.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa pasar memberikan respons positif terhadap bauran kebijakan yang diterapkan bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan.

Destry mengungkapkan bahwa nilai tukar rupiah pada Jumat (12/6/2026) ditutup di level Rp 17.865,75 per dolar Amerika Serikat atau menguat 0,84% dibandingkan posisi penutupan pada 5 Juni 2026 yang berada di level Rp 18.010,20 per dolar Amerika Serikat.

Menurutnya, penguatan tersebut mencerminkan respons positif investor terhadap kombinasi kebijakan Bank Indonesia, mulai dari kenaikan BI-Rate menjadi 5,50%, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, hingga peningkatan intensitas operasi moneter di pasar rupiah dan valuta asing.

Pasca kenaikan BI-Rate, arus modal asing juga menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data Bank Indonesia, transaksi SRBI nonresiden pada 10–11 Juni 2026 mencatat inflow sebesar Rp 15,11 triliun, sementara aliran masuk ke pasar SBN mencapai Rp 3,91 triliun.

Selain itu, obligasi internasional Danantara berhasil mencatatkan penjualan perdana senilai Rp 26,9 triliun. Menurut Bank Indonesia, capaian tersebut menjadi indikasi bahwa kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik masih tetap kuat.

Baca Juga: Perlu Evaluasi Total, Ekonom: Program MBG Perlu Dihentikan Sementara

Destry juga menambahkan bahwa ketahanan eksternal Indonesia semakin diperkuat melalui kerja sama Bank Indonesia dengan People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Kerja sama tersebut mencakup penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) serta perluasan penggunaan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Langkah tersebut diyakini mampu mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.

"Dengan berbagai perkembangan tersebut, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju level fundamentalnya," ujar Destry.

Di sisi lain, Myrdal menegaskan bahwa arah capital inflow ke Indonesia dalam jangka pendek masih sangat ditentukan oleh kombinasi antara perkembangan sentimen global dan respons kebijakan domestik.

Apabila ketegangan geopolitik terus mereda, harga minyak dunia mengalami penurunan, dan The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya, maka pasar keuangan Indonesia dinilai masih memiliki ruang yang cukup besar untuk menarik aliran modal asing dalam jumlah lebih besar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×