kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.624.000   -40.000   -1,50%
  • USD/IDR 17.784   19,00   0,11%
  • IDX 6.579   -20,64   -0,31%
  • KOMPAS100 856   -7,14   -0,83%
  • LQ45 650   -4,51   -0,69%
  • ISSI 229   -0,85   -0,37%
  • IDX30 364   -2,51   -0,69%
  • IDXHIDIV20 450   -2,05   -0,45%
  • IDX80 98   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 124   -1,25   -1,00%
  • IDXQ30 116   -0,54   -0,46%

Mentan: Metode PM AAS Bisa Dongkrak Produksi Padi hingga 13 Ton Per Hektare


Rabu, 02 September 2026 / 13:58 WIB
Mentan: Metode PM AAS Bisa Dongkrak Produksi Padi hingga 13 Ton Per Hektare
ILUSTRASI. Metode tanam padi modern melalui pertanian modern-advanced agricultural system (PM AAS) yang diklaim mampu meningkatkan produktivitas padi. (ARIF FIRMANSYAH/ARIF FIRMANSYAH)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - SUBANG. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memperkenalkan metode tanam padi modern melalui pertanian modern-advanced agricultural system (PM AAS) yang diklaim mampu meningkatkan produktivitas padi hingga dua kali lipat. Metode tersebut telah diuji coba selama dua tahun dan kini mulai diterapkan di sejumlah provinsi.

Amran mengatakan, produktivitas padi yang sebelumnya berada di kisaran 5 ton-6 ton per hektare dapat meningkat menjadi sekitar 10 ton-13 ton per hektare dengan penerapan metode PM AAS.

“Hasilnya ini sangat menggembirakan, naik dua kali lipat. Yang dulu rata-rata 5 ton, 5,5 ton, sekarang ini menjadi 11 ton, 12 ton, ada 13 ton per hektare,” kata Amran saat meninjau lahan pertanian di Subang, Rabu (2/9/2026).

Baca Juga: Target Pajak Kelas Kakap Naik Jadi Rp 806 Triliun, Ini Tiga Pemicunya

Menurut Amran, peningkatan produktivitas tersebut salah satunya berasal dari peningkatan populasi tanaman dalam satu hektare. Populasi yang sebelumnya sekitar 360.000 rumpun ditingkatkan menjadi sekitar 800.000 hingga 1 juta rumpun.

Dengan asumsi setiap rumpun menghasilkan sekitar 13,8 gram gabah, populasi 800.000 rumpun dapat menghasilkan sekitar 11 ton gabah per hektare.

Amran menyebut penerapan metode tersebut memang membutuhkan tambahan biaya. Namun, tambahan biaya sekitar Rp 2 juta per hektare dinilai sebanding dengan potensi peningkatan pendapatan petani.

“Lebih tinggi Rp 2 juta (modalnya) tetapi penghasilannya (petani) naik Rp 30 juta, Rp 35 juta,” ujarnya.

Selain meningkatkan produktivitas, metode PM AAS menggunakan sistem direct seeding atau tanam langsung. Artinya, petani tidak perlu melalui proses pembibitan dan pemindahan bibit seperti metode tanam konvensional.

Menurut Amran, metode tersebut dapat menghemat waktu sekaligus biaya pembibitan. Dengan waktu tanam yang lebih cepat, petani juga berpeluang meningkatkan indeks pertanaman.

“Untuk tiga kali tanam satu tahun itu sangat memungkinkan,” katanya.

Baca Juga: Deretan Tokoh Ternama Siap Bagikan Strategi Produktivitas Berbasis AI di IHCBS 2026

Amran menilai peningkatan produktivitas tersebut menjadi salah satu strategi pemerintah dalam menjaga swasembada dan ketahanan pangan nasional. Pemerintah juga akan mendorong penerapan metode tersebut melalui subsidi benih.

Pada tahun depan, Kementerian Pertanian menargetkan subsidi benih untuk penerapan metode PM AAS minimal mencakup 1 juta hektare lahan di seluruh Indonesia.

"Untuk tahun depan kita anggarkan minimal 1 juta hektare. Kita mulai sekarang, tapi tahun depan minimal 1 juta hektare," urainya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×