kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.049.000   4.000   0,13%
  • USD/IDR 16.943   24,00   0,14%
  • IDX 7.711   133,47   1,76%
  • KOMPAS100 1.077   18,47   1,75%
  • LQ45 788   15,37   1,99%
  • ISSI 273   5,07   1,89%
  • IDX30 419   8,93   2,18%
  • IDXHIDIV20 515   13,10   2,61%
  • IDX80 121   2,06   1,73%
  • IDXV30 139   2,88   2,11%
  • IDXQ30 135   3,02   2,28%

Mendag: Tarif Impor AS 19% Masih Bisa Berubah, Negosiasi Terus Berjalan


Senin, 04 Agustus 2025 / 15:28 WIB
Diperbarui Senin, 04 Agustus 2025 / 17:34 WIB
Mendag: Tarif Impor AS 19% Masih Bisa Berubah, Negosiasi Terus Berjalan
Menteri Perdagangan Budi Santoso memaparkan kinerja ekspor RI Semester I 2025.


Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa negosiasi antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) masih berlangsung, dengan harapan dapat menghasilkan penurunan tarif terhadap sejumlah komoditas yang tidak diproduksi di AS.

Namun, Budi belum dapat mengungkapkan secara rinci komoditas apa saja yang menjadi bagian dalam pembicaraan tersebut karena proses negosiasi masih berjalan.

"Untuk komoditas, mungkin belum bisa saya sampaikan. Tetapi dalam proses negosiasi kita juga ingin mendapatkan penurunan tarif seperti komoditas yang tidak dimiliki atau tidak diproduksi AS," ujar Budi dalam Konferensi Pers Kinerja Perdagangan Semester I 2025 di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (4/8/2025).

Ia menambahkan bahwa proses negosiasi akan terus dilakukan hingga kedua negara mencapai kesepakatan. Menurut Budi, tarif impor sebesar 19% masih berpotensi mengalami perubahan sebelum batas waktu yang ditentukan, yakni 1 September 2025.

Baca Juga: Trump Berlakukan Tarif 19% untuk ASEAN, RI Upayakan Negosiasi Produk Andalan

"Sekarang prosesnya masih berjalan, memang yang resiprokal dapat 19% itu berlaku 7 hari setelah 31 Juli. Sekarang proses negosiasi juga masih berjalan sebenarnya, mudah-mudahan sebelum 1 September sudah selesai," imbuhnya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Amerika Serikat tercatat sebagai negara penyumbang surplus terbesar dalam neraca perdagangan Indonesia, dengan nilai mencapai 9,92 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Juni 2025.

“Ini pertanda bahwa produk-produk Indonesia masih punya daya saing meskipun ini belum diberlakukan tarif resiprokal ya jadi nanti kita akan mendorong dan kita tentu akan berupaya setelah dilakukan pemberlakuan tarif resiprokal ekspor kita tetap terus meningkat,” pungkas Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×