kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Menakar ketergantungan pada Australia dan Brasil


Selasa, 24 Februari 2015 / 20:24 WIB
ILUSTRASI. Cek Rekomendasi Jarak Minum Obat untuk Dosis 3 dan 4 Kali yang Benar. REUTERS/Srdjan Zivulovic/File Photo


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Ekonom Samuel Asset Manajemen Lana Soelistianingsih berpendapat, perekonomian Indonesia tidak akan terlalu bergantung pada Australia dan Brazil. Meskipun, ada sektor ekspor-impor tertentu yang cukup berpengaruh.

Menurut Lana, untuk Australia, Indonesia ada ketergantungan yang relatif agak tinggi pada impor daging sapi. Namun, aktivitas impor ini lebih banyak kepentingan Australia sendiri daripada Indonesia secara pribadi. Indonesia adalah pasar yang besar bagi daging sapi Australia.

Selain impor daging sapi, yang perlu juga dicermati adalah pariwisata.

Sementara itu untuk Brazil, diakui Lana, tidak perlu ada kekhawatiran. Aktivitas ekspor impor dan bahkan investasi ke sana kecil.

"Hanya saja untuk impor pesawat akan sedikit terganggu," ujarnya ketika dihubungi KONTAN, Selasa (24/2). Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang ada di Bandung memiliki kerja sama dengan perusahaan Brazil dalam penyediaan komponen pesawat. Alhasil, ekonomi Indonesia masih tetap aman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×