Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengklaim harga telur dan ayam kembali naik, setelah sebelumnya sempat turun dalam beberapa waktu belakang.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa menilai kenaikan ini turut didukung dengan berjalannya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejak Senin (13/7/2026).
Diketahui, program MBG sempat dihentikan pada musim libur sekolah. Pada periode tersebut pemerintah fokus untuk melakukan perbaikan tata kelola MBG.
Baca Juga: Kopdes Merah Putih Berpotensi Jadi Pengungkit Ekonomi, Tapi Tergantung Implementasi
"Jadi MBG itu ada pengaruhnya. Mulai masuk anak sekolah, MBG dimulai, ini (harga telur dan ayam) sudah mulai naik," kata ketut dalam keterangan resminya, Kamis (16/7/2026).
Data Bapanas menunjukkan rata-rata harga ayam broiler di tingkat peternak per 14 Juli mencapai Rp21.736 per kilogram (kg) berat hidup. Angka tersebut meningkat 4,11% dibandingkan sepekan sebelumnya yang berada di level Rp20.878 per kg.
Meski demikian, kondisi harga masih bervariasi di sejumlah daerah. Di Sumatra Selatan, harga ayam broiler di tingkat peternak masih tercatat sekitar Rp18.125 per kg berat hidup.
Sementara di Riau, rata-rata harga telah mencapai Rp25.600 per kg, bahkan melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) tingkat produsen yang ditetapkan sebesar Rp 25.000 per kg berat hidup.
Tren serupa juga mulai terlihat pada komoditas telur ayam ras. Per 14 Juli, rata-rata harga nasional berada di Rp 22.644 per kg atau naik 0,66% dibandingkan sepekan sebelumnya yang masih Rp 22.495 per kg.
Harga telur terendah tercatat di Banten sebesar Rp 20.300 per kg, sedangkan harga tertinggi berada di Sulawesi Utara yang mencapai Rp 28.200 per kg. Adapun HAP telur ayam ras di tingkat peternak ditetapkan sebesar Rp 26.500 per kg.
Baca Juga: Groundbreaking Blok Abadi Masela, Bahlil Akui Terkatung-Katung Selama 28 Tahun
Ketut menjelaskan, pelemahan harga yang terjadi sebelumnya juga dipengaruhi oleh faktor musiman, yakni bertepatan dengan bulan Suro yang identik dengan berkurangnya berbagai kegiatan masyarakat seperti hajatan atau pesta pernikahan.
Kondisi tersebut menyebabkan permintaan terhadap ayam dan telur ikut menurun sehingga harga di tingkat peternak terkoreksi.
"Sebenarnya bulan Suro itu juga pengaruh besar karena bulan kemarin itu relatif bulan Suro, sehingga acara-acara hajatan dan lain sebagainya kan terhenti, sehingga permintaan terkait dengan ayam itu relatif menurun, sehingga harga terkoreksi," ujarnya.
Ketut optimistis kombinasi berakhirnya periode bulan Suro dan meningkatnya kebutuhan pangan melalui Program MBG akan menjadi momentum pemulihan harga bagi peternak unggas nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
