kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45697,73   -32,02   -4.39%
  • EMAS946.000 -1,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Masih belum ekspansi, indeks manufaktur Indonesia naik tipis pada September 2019


Rabu, 02 Oktober 2019 / 14:03 WIB
Masih belum ekspansi, indeks manufaktur Indonesia naik tipis pada September 2019
ILUSTRASI. Indeks manufaktur Indonesia naik tipis pada September 2019 namun belum menandakan ekspansi.

Reporter: Bidara Pink | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks manufaktur Indonesia pada bulan September 2019 menunjukkan perbaikan dari bulan sebelumnya. Hanya saja, menurut IHS Markit, rata-rata indeks manufaktur selama kuartal III-2019 tidak menandakan adanya perbaikan.

IHS Markit mencatat, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada September 2019 sebesar 49,1. Indeks ini naik tipis dari Agustus 2019 yang mencapai 49,0. Hanya saja, rata-rata PMI Indonesia selama kuartal III-2019 hanya 49,2, yang merupakan capaian terendah sejak akhir tahun 2016.

Berdasarkan rilis IHS Markit yang terbit Selasa (1/10), pada bulan September 2019, permintaan secara keseluruhan terus menurun. Ini tercermin dari arus total permintaan baru yang turun selama dua bulan berturut-turut pada September 2019, dan kondisi yang sama juga terjadi pada Agustus 2019. Bahkan ini merupakan penurunan yang paling tajam sejak bulan Juli 2017.

Baca Juga: Sektor Manufaktur Tertekan, Cari Saham yang Defensif premium

Permintaan domestik dan eksternal yang lemah mengakibatkan produksi terus berkurang, karena perusahaan menyesuaikan operasional di tengah penurunan penjualan. Malah, penurunan output merupakan yang paling mencolok dalam 21 bulan terkahir.

Ini juga berimbas pada pengurangan jumlah staf. Alhasil, jumlah tenaga kerja pabrik menurun selama tiga bulan berturut-turut, dan merupakan yang tercepat sejak akhir tahun 2017.

Bila dilihat dari segi harga, produsen mengambil siasat dengan menurunkan harga jual agar penjualan naik. Biaya output pun terlihat turun pada bulan September 2019, bahkan untuk pertama kali dalam tiga tahun terakhir.

Baca Juga: Tekanan risiko utang korporasi meningkat, ekonom ini jelaskan alasannya

Tekanan harga secara keseluruhan memang tidak berubah karena harga input naik marginal pada akhir kuartal III tahun ini. Tetapi ada kenaikan harga bahan baku, seperti plastik, kertas, kain, dan juga beberapa jenis makanan.

Untuk ke depannya, bila melihat dari prospek jangka pendek, IHS Markit masih melihat kondisi manufaktur Indonesia masih agak suram.

Namun, untuk jangka panjang, ada harapan dari ekspektasi bisnis untuk output yang masih akan tinggi di tahun mendatang. Hal ini disebabkan oleh aktivitas promosi, ekspansi pasar terencana, model produk baru, serta kenaikan perkiraan penjualan.

Baca Juga: Sejumlah analis beri lampu kuning saham-saham sektor manufaktur, simak rekomendasinya




TERBARU

Close [X]
×