kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.515.000   27.000   1,09%
  • USD/IDR 16.760   20,00   0,12%
  • IDX 8.859   111,06   1,27%
  • KOMPAS100 1.218   13,00   1,08%
  • LQ45 860   7,77   0,91%
  • ISSI 321   6,07   1,93%
  • IDX30 442   3,55   0,81%
  • IDXHIDIV20 516   4,55   0,89%
  • IDX80 135   1,55   1,16%
  • IDXV30 142   1,46   1,04%
  • IDXQ30 142   1,34   0,96%

LPEM FEB UI Proyeksikan Inflasi pada Mei 2022 Dikisaran 3,65%-3,7%


Rabu, 18 Mei 2022 / 15:40 WIB
LPEM FEB UI Proyeksikan Inflasi pada Mei 2022 Dikisaran 3,65%-3,7%
ILUSTRASI. Warga berbelanja bahan pangan di sebuah gerai pusat perbelanjaan di Jakarta, Rabu (19/1/2022). LPEM FEB UI Proyeksikan Inflasi pada Mei 2022 Dikisaran 3,65%-3,7%.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI Teuku Riefky memperkirakan inflasi pada Mei 2022 masih akan tetap tinggi.

Dirinya menduga inflasi pada Mei 2022 mencapai 3,65% -3,7% secara year on year (yoy). Sementara inflasi inti mencapai 2,4% -2,5% yoy.

“Inflasi intinya, kita menduga tidak akan setinggi di April 2022 (yang mencapai 2,60%),” ujar Riefky kepada Kontan.co.id, Rabu (18/5).

Menurutnya, inflasi ini didorong oleh beberapa faktor, diantaranya harga-harga komoditas seperti pangan yang masih cukup tinggi dan masih adanya efek lebaran 2022.

Riefky juga menduga harga-harga komoditas masih akan tetap tinggi yang kemudian membuat keseluruhan inflasi tahun 2022 akan menembus batas Bank Indonesia (BI) sebesar 4%.

Baca Juga: Airlangga: Indonesia di Jalur yang Tepat Hadapi Tantangan Global

“Potensi kenaikan inflasi ini patut diwaspadai oleh pemerintah, sehingga pemerintah harus meng-adjust ekspektasi inflasi agar masyarakat tidak anchor terhadap inflasi ke depannya sejauh apa,” tambah Riefky.

Sehingga menurutnya, perlu koordinasi yang erat antara Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk menentukan sejauh mana inflasi ini di kontrol.

Selain itu, kata Riefky, hal yang lain perlu diperhatikan adalah perluasan perlindungan sosial untuk masyarakat miskin dan rentan agar daya beli masyarakat tidak tergerus inflasi.

Baca Juga: Waspadai Lonjakan Inflasi, Pemerintah Perlu Lakukan Ini

“Jadi subsidi yang ditargetkan juga diperlukan untuk mendorong daya beli masyarakat tetap terjaga selama periode inflasi yang akan datang,” pungkasnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×