Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai perlambatan pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh penurunan pertumbuhan komponen konsumsi pemerintah neto (Net Claims on Central Government/NCG), bukan menunjukkan adanya pelemahan prospek ekonomi Indonesia.
David menjelaskan, pertumbuhan NCG mengalami perlambatan signifikan dari 37,4% secara tahunan (year on year/YoY) pada Mei 2026 menjadi 10,1% YoY pada Juni 2026.
Menurutnya, perlambatan tersebut terjadi akibat faktor high base effect pada Juni 2025, ketika pemerintah mempercepat realisasi belanja setelah melakukan efisiensi anggaran pada bulan-bulan sebelumnya.
"Perlambatan pertumbuhan M2 terutama dipicu oleh menurunnya laju pertumbuhan NCG atau konsumsi pemerintah neto. Hal ini dikarenakan faktor high base pada Juni 2025 saat pemerintah mempercepat realisasi belanja setelah melakukan efisiensi di bulan-bulan sebelumnya," ujar David kepada Kontan, Kamis (23/7/2026).
Baca Juga: Pertumbuhan Uang Beredar Juni Melambat, Ekonom Nilai Ini Cerminan Normalisasi Ekonomi
Di sisi lain, David melihat kinerja intermediasi perbankan masih menunjukkan penguatan. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang terus mengalami akselerasi, yakni meningkat dari 11,51% YoY pada Mei 2026 menjadi 12,67% YoY pada Juni 2026.
Ia menilai, dengan adanya fluktuasi NCG yang masih banyak dipengaruhi oleh faktor basis perbandingan tahun lalu, perlambatan pertumbuhan M2 belum dapat langsung diartikan sebagai sinyal memburuknya prospek ekonomi Indonesia.
"Mengingat fluktuasi NCG terutama dipicu oleh dampak high base tahun lalu, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa perlambatan pertumbuhan M2 mengindikasikan memburuknya prospek ekonomi Indonesia," jelasnya.
Baca Juga: PFII Masuki Masa Transisi 2–3 Tahun, Operasional Awal Digelar di Jakarta
Meski demikian, David mencermati pertumbuhan kredit yang berada di atas target otoritas turut didorong oleh sejumlah faktor, termasuk implementasi program unggulan pemerintah (flagship program) serta peningkatan inflasi inti.
Dengan kondisi tersebut, ia melihat perkembangan M2 perlu dicermati bersama dengan indikator ekonomi lainnya, terutama arah belanja pemerintah, pertumbuhan kredit, dan dinamika permintaan domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














