kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.971   60,00   0,33%
  • IDX 6.315   -19,16   -0,30%
  • KOMPAS100 830   -5,48   -0,66%
  • LQ45 627   -5,43   -0,86%
  • ISSI 218   0,30   0,14%
  • IDX30 353   -3,74   -1,05%
  • IDXHIDIV20 435   -6,25   -1,42%
  • IDX80 95   -0,51   -0,53%
  • IDXV30 119   -0,20   -0,17%
  • IDXQ30 113   -1,54   -1,35%

Pertumbuhan Uang Beredar Juni Melambat, Ekonom Nilai Ini Cerminan Normalisasi Ekonomi


Kamis, 23 Juli 2026 / 20:35 WIB
Pertumbuhan Uang Beredar Juni Melambat, Ekonom Nilai Ini Cerminan Normalisasi Ekonomi
ILUSTRASI. Petugas beraktivitas di pooling cash Bank Mandiri, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perlambatan pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2026 tidak serta-merta menunjukkan adanya pengetatan likuiditas di perekonomian. Ekonom menilai, penurunan laju M2 lebih mencerminkan perubahan komposisi sumber penciptaan uang, terutama berkurangnya dorongan dari sisi fiskal pemerintah.

Lead Economist Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz menilai perlambatan pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juni 2026 lebih mencerminkan normalisasi komposisi sumber penciptaan uang, bukan menunjukkan adanya pengetatan likuiditas.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), pertumbuhan M2 pada Juni 2026 tercatat sebesar 8,7% secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan pada Mei 2026 yang mencapai 10,8% secara year on year (yoy).

Baca Juga: PFII Masuki Masa Transisi 2–3 Tahun, Operasional Awal Digelar di Jakarta

"Perlambatan M2 menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dan pertumbuhan likuiditas sedang mengalami normalisasi, sejalan dengan permintaan domestik yang masih belum pulih sepenuhnya," ujar Faiz kepada Kontan, Kamis (23/7/2026).

Faiz menjelaskan, M2 merupakan hasil interaksi berbagai faktor, mulai dari aktivitas ekonomi, penciptaan kredit, operasi fiskal pemerintah, hingga transaksi eksternal. Karena itu, perkembangan M2 tidak dapat dibaca secara terpisah sebagai indikator kondisi likuiditas.

Menurutnya, data Juni menunjukkan pertumbuhan M2 terutama masih ditopang oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. Meski pertumbuhan uang beredar melambat, pertumbuhan kredit justru meningkat menjadi 12,1% yoy.

Sementara itu, pertumbuhan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat mengalami perlambatan signifikan menjadi 10,1% yoy pada Juni 2026, dibandingkan 37,4% yoy pada Mei 2026.

"Dengan demikian, perlambatan M2 lebih banyak berasal dari berkurangnya dorongan likuiditas dari sisi pemerintah (fiscal impulse) dibandingkan melemahnya intermediasi perbankan. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan belanja pemerintah yang juga melambat," jelas Faiz. 

Ia menilai, perkembangan M2 lebih tepat dipandang sebagai cerminan kondisi perekonomian, bukan sebagai faktor tunggal yang menentukan arah ekonomi ke depan. "Dengan kata lain, perlambatan M2 tidak otomatis berarti konsumsi, investasi, atau pertumbuhan ekonomi akan melemah. Sebaliknya, M2 menggambarkan bagaimana aktivitas ekonomi, permintaan kredit, dan perputaran uang di masyarakat berkembang," katanya.

Baca Juga: Fajar/Fikri Tembus Perempat Final China Open 2026 Berkat Adaptasi Cepat

Dalam konteks Juni 2026, Faiz melihat perlambatan M2 mencerminkan proses normalisasi likuiditas di tengah permintaan domestik yang masih dalam tahap pemulihan. Di sisi lain, pertumbuhan kredit yang tetap kuat menunjukkan belum adanya gangguan terhadap fungsi intermediasi perbankan.

Karena itu, prospek konsumsi dan investasi ke depan dinilai akan lebih banyak ditentukan oleh faktor fundamental, seperti perbaikan daya beli masyarakat, belanja pemerintah, serta kondisi ekonomi global, bukan semata-mata oleh pertumbuhan M2.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×