kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Komposisi menteri Kabinet Indonesia Maju di bidang ekonomi kurang meyakinkan


Rabu, 23 Oktober 2019 / 15:30 WIB
Komposisi menteri Kabinet Indonesia Maju di bidang ekonomi kurang meyakinkan
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Wakil Presiden Maruf Amin memperkenalkan menteri Kabinet Indonesia Maju di beranda Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

Selanjutnya, menurut Herry, dengan potensi industri digital Indonesia yang mencapai ratusan miliar dolar AS sepatutnya dipimpin Nadiem Makarim, yang justru ditempatkan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Bukan hanya berhasil membangun Gojek, Nadiem telah berhasil menciptakan ekosistem industri digital dengan kondisi nyata di Indonesia. Ini yang diperlukan sekarang,” tegasnya.

Baca Juga: Lebih 80.000 pegawai Kementerian Keuangan sambut kembali Sri Mulyani

Sri Mulyani Indrawati mungkin menjadi satu-satunya menteri yang sejalan dengan keahlian dan pengalamannya, sehingga cocok di tempat sekarang, Menteri Keuangan (Menkeu). Tapi masalahnya, ketika kondisi keuangan negara yang sedang ketat seperti sekarang lantaran penerimaan pemerintah sedang melambat, Sri Mulyani akan berhadapan dengan persoalan pelik.

“Kalau pertumbuhan ekonomi meleset atau turun, yang ditunjuk adalah Menkeu. Sementara mitranya yang punya peran besar ikut mendorong pertumbuhan ekonomi, justru akan sulit mendukung,” kata Herry.

Herry berpandangan, Sri Mulyani mestinya lebih cocok menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, kalau melihat komposisi yang ada sekarang. “Dia yang menjadi konduktor, bukan Airlangga,” ujarnya.

“Dengan demikian, tercipta harmoni yang lebih baik dalam memulihkan kondisi perekonomian sekarang dan menyiapkan fundamental ekonomi untuk mencapai tujuan yang diharapkan oleh Presiden,” imbuh dia.

Baca Juga: Ini profil Erick Thohir yang menggantikan posisi Rini Soemarno

Sementara di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang saat ini menterinya adalah Erick Thohir, juga kurang meyakinkan. “Belum kelihatan visinya, bahkan saat menjadi pengusaha. Beda dengan kakaknya, Boy Thohir yang memimpin Adaro dan sukses,” katanya.

Sementara persoalan yang BUMN hadapi saat ini sangat serius. BUMN sedang menjadi pendamping pemerintah dalam merealisasikan program-program besar, yang dampaknya akan terasa dalam jangka panjang.

Akibatnya juga, BUMN sedang menghadapi beban utang yang besar dan harus mereka atasi. Sementara proyek yang perusahaan pelat merah kerjakan banyak muatan sosialnya.

Tak kalah pentingnya, Herry memaparkan, secara organisasi, BUMN dalam proses pemantapan terkait dengan holding yang baru terbentuk. “Erick belum terlihat memiliki tanda-tanda positif di seluruh persoalan ini, karena usahanya seperti Mahaka Group saja, kan, terpecah kecuali tersisa media dan asuransi yang biasa-biasa saja, terutama di bidang inovasi atau terobosan. Mungkin lebih hebat BUMN,” beber dia.

Baca Juga: Ini pesan Jokowi kepada Kabinet Indonesia Maju

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, keinginan Presiden Jokowi agar Indonesia memiliki pertumbuhan yang tinggi, sehingga pendapatan per kapita bisa Rp 27 juta per bulan akan sulit tercapai. “Begitu pun dengan keinginan keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah,” tambah Herry.




TERBARU

×