kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Ketidakpercayaan publik bikin ongkos politik mahal


Minggu, 17 November 2013 / 16:42 WIB
Ketidakpercayaan publik bikin ongkos politik mahal
ILUSTRASI. Beli pulsa, paket data, atau bayar listrik dengan OVO dan dapatkan cashback s.d 50%.


Reporter: Hendra Gunawan | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Direktur Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Jojo Rohi mengatakan, salah satu sebab ongkos politik mahal karena ketidakpercayaan publik terhadap partai politik mau pun kadernya yang menjadi wakil rakyat justru tidak melahirkan kesejahteraan seperti janjinya.

"Biaya politik tinggi tidak berdiri sendiri. Biaya politik tinggi disebabkan tingkat kepercayaan publik terhadap parpol yang makin tergerus," ujar Jojo dalam diskusi 'Peran Elit Partai Politik dalam Suksesi Kepemimpinan Nasional yang Aman dam Demokratis,' di Jakarta, Minggu (17/11).

Menurutnya, wajar saja ketika ketidakpercayaan publik menguat, parpol dan kadernya yang menjadi caleg harus jorjoran mengeluarkan uang untuk kampanye. Dengan harapan, semakin banyak uang untuk kampanye dirinya, publik akan memberikan pilihannya. Padahal hasilnya tidak demikian.

Bahkan, sambung Jojo, tak sedikit caleg untuk mendapat kepercayaan publik harus membeli suaranya dengan secara diam-diam dan blak-blakan melakukan serangan fajar dan politik uang dengan berbagai bentuk. Bisa pemberian sembako dan sebagainya.

"Artinya, untuk menjadi pecundang pun biayanya mahal. Orang yang menjadi kalah pun ongkosnya mahal. Butuh biaya untuk mengorganisir orang ngamuk di MK. Agar politik itu murah, bila kita bisa meraih kepercayaan publik," terangnya lagi. (Tribunnews.com)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

[X]
×